Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan sikap keras terhadap segala bentuk kekerasan seksual di tengah munculnya disinformasi yang menyudutkan dirinya terkait kasus di sebuah pesantren di Pati, Jawa Tengah.
“Sikap saya jelas dan tegas. Tidak ada toleransi untuk tindak kekerasan seksual,” ujar Nasaruddin, Rabu (6/5/2026).
Ia menegaskan, sebagai pejabat publik maupun sebagai individu, dirinya memandang pelaku kejahatan seksual sebagai musuh bersama.
“Saya tidak pernah menoleransi tindakan yang mencederai martabat kemanusiaan,” tegasnya.
Menag juga mengingatkan bahwa lembaga pendidikan keagamaan harus menjadi ruang paling aman bagi anak. Ia mengajak masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.
“Mari menjadi pemutus rantai hoaks dengan saring sebelum sharing,” ujarnya.
Sebagai respons konkret, Kementerian Agama mengambil sejumlah langkah cepat. Direktur Pesantren Kemenag Basnang Said menjelaskan kebijakan yang diterapkan untuk melindungi santri.
Pertama, penghentian sementara penerimaan santri baru di pesantren terkait agar fokus pada penanganan kasus.
Kedua, pemindahan santri ke lembaga pendidikan lain. Sebanyak 252 santri difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan di sejumlah sekolah terdekat di wilayah Pati.
Ketiga, dukungan penuh terhadap proses hukum.
“Kami minta terduga pelaku diproses hukum dan tidak menjalankan tugas selama proses berlangsung,” tegas Basnang.
Kemenag juga menyiapkan langkah jangka panjang dengan memperkuat pengawasan melalui pembentukan satuan pembinaan pondok pesantren.
Langkah ini diharapkan mampu mencegah terulangnya kasus serupa serta memastikan lingkungan pendidikan keagamaan tetap aman dan berintegritas.

































































