KOTA TANGERANG — Pencegahan penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme dinilai harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan komunitas warga. Berangkat dari pendekatan tersebut, Densus 88 Anti Teror melalui Tim Pencegahan Satgaswil DKI Jakarta memperkuat peran tokoh masyarakat dan aparatur lingkungan dalam mendeteksi dini potensi penyebaran paham radikal di tengah masyarakat.
Langkah itu diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Pencegahan Paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) yang digelar di Kantor Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, pekan lalu.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 120 peserta yang terdiri dari berbagai unsur strategis di tingkat lokal, mulai dari perangkat pemerintah daerah, lurah, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga para ketua RT dan RW di wilayah Kecamatan Tangerang.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Tim Pencegahan Satgaswil DKI Jakarta dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum Banten sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ancaman ideologi kekerasan.
Hadir dalam kegiatan itu Sekretaris Daerah Kota Tangerang, perwakilan Kanwil Kementerian Hukum Banten, Camat Tangerang, para lurah se-Kecamatan Tangerang, serta unsur masyarakat lainnya.
Dalam pemaparannya, Tim Pencegahan Satgaswil DKI Jakarta menegaskan bahwa tokoh lingkungan memiliki posisi penting dalam sistem deteksi dini karena merupakan pihak yang paling dekat dengan dinamika masyarakat sehari-hari.
“Tokoh masyarakat, RT, RW, dan tokoh agama memiliki peran strategis dalam mendeteksi dini potensi penyebaran paham intoleran dan radikal di lingkungan sekitar,” ujar perwakilan Tim Pencegahan Satgaswil DKI Jakarta.
Menurut tim pemateri, ancaman radikalisme saat ini tidak selalu hadir dalam bentuk fisik atau kelompok terbuka, tetapi banyak bergerak secara tersembunyi melalui ruang digital dan jejaring sosial yang sulit dikenali sejak awal.
Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya waspada terhadap perubahan perilaku sosial, tetapi juga terhadap aktivitas digital, khususnya yang melibatkan generasi muda.
Dalam sesi materi, peserta mendapat pemahaman mengenai pola penyebaran paham radikal yang kini banyak memanfaatkan media sosial, ruang percakapan digital, hingga game online sebagai medium propaganda.
Fenomena ini dinilai menjadi tantangan baru dalam pencegahan terorisme karena sasaran utamanya banyak mengarah pada kalangan remaja dan anak muda yang aktif di dunia digital.
Tim Pencegahan Satgaswil DKI Jakarta menjelaskan bahwa terorisme bukanlah proses yang terjadi secara tiba-tiba.
Menurut mereka, aksi teror biasanya diawali dari tumbuhnya intoleransi, berkembang menjadi radikalisme, kemudian mengarah pada ekstremisme berbasis kekerasan sebelum akhirnya bermuara pada tindakan teror.
Karena itu, intervensi sejak tahap awal dinilai jauh lebih efektif dibanding menunggu ancaman berkembang menjadi tindakan nyata.
Selain penguatan kewaspadaan digital, materi sosialisasi juga menyoroti pentingnya membangun solidaritas sosial di tingkat lingkungan.
Kegiatan sederhana seperti kerja bakti, musyawarah warga, hingga aktivitas sosial bersama dinilai menjadi instrumen penting untuk memperkuat ikatan sosial dan mencegah munculnya ruang-ruang eksklusif yang rentan dimasuki ideologi radikal.
“Ketika lingkungan memiliki kohesi sosial yang kuat, ruang masuk bagi paham radikal akan semakin sempit,” jelas narasumber.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah penguatan ketahanan keluarga.
Dalam sesi tersebut, para peserta diingatkan bahwa keluarga merupakan benteng pertama dalam mencegah paparan radikalisme, terutama terhadap anak-anak dan remaja.
Orang tua diimbau untuk membangun komunikasi terbuka dengan anak, memahami aktivitas digital mereka, serta menanamkan nilai toleransi, moderasi beragama, dan etika sosial sejak dini.
“Peran keluarga dan lingkungan sangat penting dalam mengawasi aktivitas digital anak agar tidak terpapar konten kekerasan maupun propaganda radikal,” ujar narasumber dari Tim Pencegahan Satgaswil DKI Jakarta.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Sejumlah peserta terlihat aktif menyampaikan pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi dalam menjaga kerukunan di lingkungan masing-masing.
Para peserta pun menyambut positif kegiatan tersebut dan berharap program serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan hingga menjangkau tingkat kelurahan dan komunitas warga secara lebih luas.
Melalui sosialisasi ini, Densus 88 berharap para tokoh agama, tokoh masyarakat, aparatur wilayah, serta unsur lingkungan dapat menjadi agen penguat toleransi sekaligus penggerak utama dalam membangun lingkungan yang aman, damai, dan kondusif di Kota Tangerang.

































































