MEDAN — Dua puluh dua tahun setelah menjadi korban ledakan bom di kawasan Kuningan, Jakarta, Mulyono memilih menjadikan pengalaman traumatis tersebut sebagai jalan untuk menyuarakan perdamaian. Penyintas Bom Kuningan 2004 itu mengajak masyarakat, terutama generasi muda, menolak radikalisme dan tidak membalas kekerasan dengan kekerasan.
Kesaksian tersebut disampaikan Mulyono dalam Halaqah Alim Ulama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara di Hotel Santika Medan, Rabu (12/8/2026).
Mulyono merupakan salah satu korban ledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia pada 9 September 2004. Saat kejadian, ia berada di dalam mobil yang berjarak sekitar 25 meter dari titik ledakan.
Ledakan tersebut menyebabkan Mulyono mengalami luka serius dan harus menjalani serangkaian operasi serta proses pemulihan di Jakarta, Singapura, hingga Australia.
Namun, pengalaman tersebut tidak membuatnya memilih jalan kebencian.
“Cintai perdamaian, jangan membenarkan terorisme, dan jangan pernah membalas kekerasan dengan kekerasan,” ujar Mulyono, seperti dikutip dari situs resmi MUI Sumatera Utara.
Bagi Mulyono, terorisme bukan sekadar persoalan ideologi atau peristiwa yang diberitakan di media. Di balik sebuah aksi teror terdapat manusia yang kehilangan rasa aman, mengalami luka fisik, serta harus menjalani dampak psikologis dan sosial dalam waktu panjang.
Hingga kini, Mulyono masih harus mengonsumsi obat dan menghadapi gangguan kesehatan akibat peristiwa tersebut. Namun, kondisi itu tidak membuatnya memilih untuk menyimpan dendam.
Sebaliknya, ia justru aktif menyampaikan pesan perdamaian dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang mempertemukan penyintas dengan mantan pelaku terorisme.
Pilihan untuk memaafkan menjadi bagian dari proses Mulyono dalam memulihkan diri sekaligus memutus rantai kebencian.
Menurutnya, kekerasan hanya akan melahirkan penderitaan baru apabila dibalas dengan kekerasan. Karena itu, pengalaman para korban perlu dijadikan pelajaran untuk mencegah munculnya korban-korban berikutnya.
Mulyono kini menjadi Pembina Yayasan Penyintas Indonesia. Posisi tersebut ia gunakan untuk mengedukasi masyarakat mengenai dampak nyata terorisme sekaligus mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terpengaruh narasi yang membenarkan kekerasan.
Menurut dia, generasi muda perlu memahami bahwa propaganda ekstrem kerap menyederhanakan persoalan dan membangun kebencian terhadap kelompok lain. Padahal, keputusan untuk menggunakan kekerasan selalu memiliki konsekuensi terhadap manusia yang tidak terlibat.
Dalam berbagai kesempatan, Mulyono juga berinteraksi dengan mantan pelaku terorisme. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ruang dialog dan menunjukkan bahwa rekonsiliasi tetap mungkin dilakukan ketika seseorang bersedia meninggalkan kekerasan.
Ia menilai dukungan keluarga serta keyakinan terhadap nilai-nilai agama menjadi kekuatan penting dalam proses bangkit dari pengalaman traumatis.
Kesaksiannya di hadapan para alim ulama di Medan sekaligus memperlihatkan bahwa penyintas memiliki peran penting dalam pencegahan terorisme. Pengalaman langsung mereka dapat menjadi pengingat bahwa di balik ideologi kekerasan selalu ada korban nyata.
Mulyono berharap masyarakat tidak hanya menolak aksi teror, tetapi juga ikut memutus mata rantai kebencian yang dapat menjadi pintu masuk menuju kekerasan.
Pesannya sederhana: perdamaian harus dipilih, bahkan ketika seseorang pernah mengalami kekerasan.


























































