JAKARTA — Bagi sebagian siswa SMP Negeri 23 Surabaya, kedatangan kotak Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar rutinitas di sela kegiatan belajar. Menu yang tersaji setiap hari menjadi bagian dari upaya menjaga energi agar mereka tetap fokus belajar dan aktif mengejar prestasi.
Pemandangan itu terlihat sejak pukul 08.00 WIB. Ketika proses belajar berlangsung, sejumlah siswa yang tergabung dalam Kader Kesehatan Remaja SMPN 23 Surabaya mulai bersiap menyambut kiriman MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Nikmat Barokah Kedung Asem, Rungkut, Surabaya.
Mengenakan rompi hijau, para siswa membantu mengawasi proses penerimaan makanan. Kotak-kotak MBG diturunkan dari kendaraan, kemudian ditata dan dihitung sebelum dibagikan kepada para siswa.
Melalui pengeras suara, siswa yang ditunjuk kemudian dipanggil untuk mengambil makanan dan membawanya ke kelas masing-masing. Suasana sekolah yang semula tenang berubah menjadi riuh oleh aktivitas siswa.
Sebelum disantap, makanan terlebih dahulu melalui proses pemeriksaan oleh guru. Setelah dinyatakan siap, sekitar pukul 09.10 WIB para siswa mulai menyantap menu yang disediakan.
Doa bersama mengawali waktu makan. Setelah itu, aroma telur rebus bumbu Bali, oseng tempe, sayur wortel dan bihun, nasi putih serta buah anggur memenuhi ruang kelas.
Bagi sebagian siswa, makanan tersebut menjadi lebih dari sekadar pengganjal lapar.
Salah satunya Eldio Ahmad Bayu Aji, siswa kelas VIII D yang akrab disapa El. Remaja 13 tahun itu mengaku merasakan perubahan pada kondisi tubuhnya setelah rutin mendapatkan MBG.
“Bagi saya itu MBG sangat bermanfaat karena juga sudah termasuk dengan 4 sehat 5 sempurna. Jadi lauk-pauknya enak, sayurnya juga enak,” kata El dikutip dari cnnindonesia.com.
Sejak MBG hadir di sekolahnya, El mengaku tidak lagi rutin membawa bekal dari rumah. Makanan yang diterimanya di sekolah menjadi salah satu sumber asupan utama selama mengikuti kegiatan belajar.
“Setelah makan MBG itu badan lebih fresh. Karena perut juga sudah mulai terisi, konsentrasi jadi lebih bagus,” ujarnya.
Menu MBG bahkan menjadi bahan obrolan tersendiri di antara El dan teman-temannya. Mereka kerap saling bercerita mengenai makanan yang diterima pada hari tersebut.
Menariknya, asupan yang membantu menjaga energi itu berjalan beriringan dengan aktivitas akademik El. Ia tercatat konsisten masuk lima besar di kelas.
Tidak hanya berprestasi di sekolah, El juga pernah meraih juara II tingkat kota dalam ajang Data AI serta penghargaan harapan I dalam Lomba Peneliti Belia Surabaya (LPPS).
Bagi El, makanan yang diterimanya setiap hari membantu menjaga kondisi tubuh ketika harus mengikuti kegiatan belajar dan berbagai aktivitas lainnya.
Pengalaman berbeda dialami Aliyah Putri Premono, siswa kelas IX berusia 14 tahun.
Aliyah tetap membawa bekal dari rumah meski memperoleh MBG setiap hari. Keputusan tersebut bukan karena ia menganggap porsi MBG tidak mencukupi, melainkan karena aktivitasnya di sekolah cukup padat.
“Ya, aku butuh asupan energi yang lebih banyak,” kata Aliyah.
Sejak kelas VII, Aliyah aktif mengikuti ekstrakurikuler Paskibra. Aktivitas tersebut membuatnya membutuhkan energi tambahan, terlebih ia sering baru tiba di rumah sekitar pukul 17.00 WIB.
Karena itu, Aliyah mengatur sendiri waktu makannya. MBG disantap terlebih dahulu, sementara bekal dari rumah dikonsumsi saat istirahat berikutnya atau sebelum mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
“MBG-nya biasanya saya makan dulu, lalu nanti ada istirahat kedua saya baru makan bekal saya,” jelasnya.
Kebiasaan tersebut juga menjadi perhatian keluarganya. Aliyah mengaku kerap bercerita kepada ibunya mengenai menu MBG yang diterimanya di sekolah.
“Ma, hari ini MBG-nya chicken katsu. Terus mama saya nanyain, kira-kira enak apa enggak. Saya jawab, enak, Mama mau nyoba? Nanti saya bawakan,” tutur Aliyah sambil tertawa.
Konsistensi Aliyah dalam menjaga energi turut mendukung aktivitasnya di Paskibra. Ia dipercaya menjadi danton dan beberapa kali membawa timnya meraih prestasi.
Salah satunya adalah juara I kategori madya dalam ajang Paskibra tingkat SMP se-Surabaya.
Cerita El dan Aliyah menunjukkan bahwa dampak program MBG di sekolah tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Ada siswa yang menjadikannya sebagai sumber asupan utama selama berada di sekolah, sementara siswa lain mengombinasikannya dengan bekal dari rumah karena memiliki aktivitas tambahan.
Namun, keduanya memiliki kebutuhan yang sama: asupan makanan yang membantu menjaga energi selama menjalani aktivitas pendidikan.
Pada akhirnya, kotak MBG yang datang ke sekolah setiap hari bukan hanya tentang nasi, lauk, sayur dan buah. Di balik makanan tersebut terdapat harapan agar anak-anak dapat belajar dengan lebih baik, beraktivitas dengan energi yang cukup, dan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan potensi mereka.
Dari ruang kelas hingga lapangan Paskibra, gizi menjadi salah satu fondasi yang membantu siswa bergerak mengejar prestasi.































































