JAKARTA — Kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan algoritma media sosial membawa tantangan baru bagi kehidupan kebangsaan. Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat menghadapi risiko semakin terjebak dalam ruang gema yang hanya mempertemukan mereka dengan pandangan yang serupa. Kondisi ini dinilai dapat memperlebar polarisasi dan mengikis ruang perjumpaan antarkelompok.
Persoalan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam webinar nasional Bincang Damai bertema “Menjadi Indonesia: Merdeka, Berbeda dan Tetap Bersama” yang digelar Ruang Damai pada Senin (17/8/2026). Diskusi daring tersebut melibatkan ratusan akademisi dan tokoh lintas iman untuk membahas kembali makna kemerdekaan dan kedaulatan bangsa di tengah perubahan teknologi.
Direktur Eksekutif Ruang Damai Zainal Abidin mengatakan, makna kemerdekaan pada era digital tidak lagi hanya berkaitan dengan kebebasan secara fisik, tetapi juga menyangkut kemampuan masyarakat mempertahankan kebebasan berpikir di tengah derasnya arus informasi.
Menurut dia, algoritma digital berpotensi menciptakan ruang gema yang membuat seseorang terus-menerus menerima informasi yang sesuai dengan pandangan atau keyakinannya. Jika tidak disikapi secara kritis, kondisi tersebut dapat mempersempit ruang dialog dan memperkuat sekat sosial.
“Kemerdekaan sejati di era modern adalah ketika perbedaan identitas tidak lagi dijadikan komoditas digital untuk memecah belah, melainkan sebagai algoritma sosial yang memperkaya inovasi bangsa,” ujar Zainal, dikutip dari Republika.co.id.
Zainal mendorong masyarakat tidak berhenti pada upaya merawat keberagaman sebagai slogan. Keberagaman, menurut dia, perlu dikembangkan menjadi modal sosial yang aktif untuk menghadapi berbagai tantangan dan krisis global.
Pandangan tersebut sejalan dengan Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto yang menilai toleransi tidak cukup hanya diwujudkan melalui pengakuan terhadap perbedaan. Toleransi membutuhkan perjumpaan nyata, interaksi, dan kerja bersama di antara kelompok yang memiliki latar belakang berbeda.
“Kemerdekaan harus berarti ruang untuk menjadi diri sendiri. Tentu untuk mewujudkan toleransi dengan hadir secara penuh dalam interaksi, perjumpaan, dan kerja bersama lintas identitas,” ujar Semiarto.
Di tengah perubahan ekosistem informasi, penguatan nilai moral juga dinilai penting, terutama bagi generasi muda yang menjadi salah satu kelompok paling aktif menggunakan ruang digital.
Ketua Umum Presidium Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) Agustina menekankan pentingnya nilai-nilai moral seperti cinta kasih dan keseimbangan batin sebagai bekal menghadapi perbedaan. Nilai tersebut dinilai dapat membantu generasi muda merespons informasi secara lebih bijaksana dan tidak mudah terseret provokasi.
Diskusi tersebut pada akhirnya menempatkan literasi digital, toleransi, dan penguatan karakter sebagai tiga unsur penting dalam menghadapi potensi polarisasi di era AI. Teknologi tidak seharusnya menjadi ruang yang mempersempit perjumpaan, melainkan dapat dimanfaatkan untuk memperluas dialog dan memperkuat kohesi sosial.
Di tengah perbedaan identitas dan pandangan, kemerdekaan digital pada akhirnya bukan sekadar kebebasan untuk berbicara, tetapi juga kemampuan untuk mendengar, memahami perspektif yang berbeda, dan tetap menjaga kebersamaan sebagai satu bangsa.
































































