JAKARTA — Aparat keamanan Turki kembali memperketat pencegahan terorisme. Operasi gabungan unit kontraterorisme dan intelijen kepolisian Istanbul menangkap 14 tersangka yang diduga terkait dengan Daesh atau ISIS dan Al-Qaeda.
Dikutip dari Daily Sabah, penangkapan dilakukan dalam operasi di sejumlah wilayah Istanbul pada Selasa (6/10). Para tersangka sebelumnya berada dalam penyelidikan terkait dugaan pendanaan terorisme.
Selain pendanaan, aparat menuding mereka memiliki hubungan dengan anggota Daesh dan Al-Qaeda yang berada di “zona konflik” — istilah yang merujuk pada Suriah. Wilayah itu masih menjadi tempat beroperasinya sisa jaringan ekstremis meski kekuatan teritorial ISIS telah jauh menyusut.
Sejumlah tersangka juga diduga menunjukkan dukungan terhadap kelompok teroris melalui media sosial. Mereka bahkan diduga tengah merencanakan serangan yang menyasar wilayah Turki.
Operasi di Istanbul ini menjadi bagian dari upaya panjang Turki memutus jaringan sebelum berkembang menjadi ancaman lebih besar.
Penanganan Daesh di Turki tidak hanya menyasar pelaku kekerasan langsung. Aparat juga membidik mereka yang diduga berperan dalam pendanaan, fasilitasi, komunikasi, hingga hubungan dengan jaringan di luar negeri.
Selama bertahun-tahun, Turki menjalankan operasi kontraterorisme terhadap Daesh di dalam maupun di luar perbatasan. Penggerebekan dilakukan berkala di berbagai wilayah untuk mencegah serangan sekaligus mengganggu keberadaan jaringan.
Dugaan aktivitas tersangka di media sosial menunjukkan ruang digital menjadi perhatian utama pencegahan. Dukungan terhadap kelompok teroris yang disebar daring dapat menjadi bagian dari aktivitas jaringan yang kemudian ditindaklanjuti aparat.
Karena itu, operasi keamanan tidak hanya diarahkan pada pelaku yang sudah menyerang, tapi juga pada jaringan yang diduga sedang membangun kemampuan untuk beraksi.
Daesh mengalami kebangkitan pesat pada 2014 ketika menguasai wilayah luas di Irak dan Suriah dan mendeklarasikan apa yang mereka sebut “kekhalifahan”. Namun wilayah itu runtuh setelah serangkaian operasi militer. ISIS dikalahkan di Irak pada 2017 dan kehilangan basis teritorial utamanya di Suriah dua tahun kemudian.
Meski kekuasaan teritorial berakhir, sel-sel tersembunyi masih menjadi perhatian aparat di sejumlah negara. Pemberantasan jaringan ISIS kini tidak hanya soal medan konflik, tapi juga soal pergerakan individu, aliran dana, komunikasi, dan propaganda lintas negara.

































































