JAKARTA – Cara kelompok teroris mencari dan mengirim uang di Indonesia sudah naik kelas. Jika dulu mengandalkan transfer konvensional dan kurir, kini mereka memanfaatkan celah organisasi nirlaba, dompet digital, hingga aplikasi pesan terenkripsi.
Perubahan pola itu menjadi alarm bagi aparat. Dalam bedah buku “Trilogi Pendanaan Terorisme” di Universitas Indonesia, Kamis (8/10/2026), Kepala BNPT Eddy Hartono menyebut pendanaan adalah bahan bakar utama terorisme, dan modusnya kini jauh lebih licin.
“Teknologi dan pola transaksi keuangan berubah sangat cepat. Kalau strategi pencegahan tidak adaptif dan kolaboratif, kita akan selalu tertinggal,” kata Eddy.
Kekhawatiran yang sama datang dari PPATK. Deputi Bidang Pelaporan dan Pengawasan Kepatuhan, Fithriadi Muslim, menilai pengawasan tidak bisa lagi menunggu transaksi selesai baru bertindak.
Menurutnya, ada dua titik rawan yang paling sering dieksploitasi: penyalahgunaan yayasan atau organisasi nirlaba sebagai wadah donasi, serta pemanfaatan teknologi finansial baru yang sulit dilacak.
PPATK mendorong tiga langkah antisipasi: pertama, membuat regulatory sandbox agar aturan bisa berlari secepat teknologinya. Kedua, memperkuat kemampuan digital forensik untuk melacak jejak wallet address kripto. Ketiga, menggunakan analisis graf dan perilaku untuk memetakan jaringan donor dan penerima manfaat.

































































