MEDAN – Peringatan Hari Lahir Nabi Kongzi ke-2.577 yang digelar Perkumpulan Rohaniawan Khonghucu Indonesia (PARAKHIN) di Medan, Minggu (11/10/2026), tidak hanya soal seremoni. Momentum ini dipakai untuk meneguhkan kembali nilai kebajikan, kemanusiaan, dan toleransi, sekaligus menyoroti dua persoalan lama umat: pendataan dan pendidikan agama.
Dewan Pembina PARAKHIN, Hasyim, mengatakan ajaran Nabi Kongzi yang berusia ribuan tahun tetap relevan sebagai pedoman hidup rukun, baik di keluarga maupun di masyarakat yang majemuk.
“Ini menjadi momentum bagi kita, khususnya umat Khonghucu, untuk senantiasa menjalankan nilai-nilai luhur yang sudah diajarkan sejak zaman dahulu. Ajaran luhur dari Nabi Kongzi ini sangat relevan sampai sekarang,” ujar Hasyim dikutip dari rri.co.id, Selasa (13/10).
Nilai itu, kata dia, sederhana tapi fundamental: menghormati orang tua, menghargai guru dan yang lebih tua, serta menjaga hubungan baik dengan sesama tanpa membedakan latar belakang. Kebajikan tidak cukup dihafal, tapi harus dipraktikkan sehari-hari.
Di balik itu, Hasyim menyoroti fakta di lapangan soal pendataan. Ia menyebut jumlah umat Khonghucu di data kependudukan belum akurat. Masih banyak warga yang dalam keseharian menjalankan ajaran Khonghucu, tapi di KTP tertulis agama Buddha.
“Banyak juga kita lihat KTP tertulis agama Buddha, tetapi sebenarnya mereka menjalankan ajaran-ajaran Khonghucu,” katanya.
Kondisi itu, menurutnya, warisan masa sebelum Reformasi, ketika pengakuan terhadap Khonghucu masih terbatas. Dampaknya, sebagian umat terpaksa mencantumkan Buddha di identitas kependudukan.
Karena itu, ia berharap ada pendataan yang lebih akurat agar pemerintah bisa menyusun kebijakan dan pelayanan keagamaan yang lebih tepat sasaran.
Dorong Pendidikan Agama Khonghucu di Sekolah
Persoalan lain yang disoroti adalah akses pendidikan agama. Hasyim mendorong pemerintah lebih aktif memastikan siswa beragama Khonghucu bisa mendapat pelajaran agama sesuai keyakinannya di sekolah.
“Kita dorong pemerintah untuk sesegera mungkin lebih aktif memberikan kesempatan kepada siswa-siswa kita yang beragama Khonghucu agar bisa mendapatkan pendidikan agama, khususnya agama Khonghucu,” ujarnya.
Penguatan data dan pendidikan, kata dia, harus berjalan beriringan agar pewarisan nilai-nilai ajaran kepada generasi muda bisa berjalan optimal.
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Deli Serdang, Saripuddin Daulay, berharap peringatan ini bisa mempererat silaturahmi dan toleransi di Deli Serdang.
“Saya berharap dengan adanya kegiatan peringatan Hari Lahir Nabi Kongzi ini, khususnya umat Khonghucu di Deli Serdang dapat mempererat hubungan silaturahmi dan toleransi antarumat beragama,” ujarnya.
Menurutnya, pesan kemanusiaan Nabi Kongzi sangat tinggi dan relevan untuk semua umat beragama, terutama untuk membentuk moral generasi muda.
“Pesan dari Nabi Khonghucu ini mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang sangat tinggi kepada kita semua, seluruh umat beragama,” katanya.
Ia menegaskan, kerukunan tidak cukup dibangun lewat slogan, tapi lewat tindakan nyata: menghormati hak setiap warga, memastikan pendataan yang adil, dan memenuhi hak pendidikan agama.

































































