Oleh: Agus Wibowo
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sejak awal 2025 perlahan menunjukkan dampak sosial-ekonomi yang nyata. Tidak hanya membantu anak-anak sekolah mendapatkan asupan bergizi, tetapi juga membuka peluang kerja dan usaha baru bagi masyarakat kecil di berbagai daerah.
Bagi sebagian orang, MBG mungkin hanya program pemberian makanan. Namun di lapangan, inisiatif ini telah menjadi penggerak ekonomi lokal yang hidup — melibatkan petani, nelayan, pelaku UMKM, ibu rumah tangga, hingga tenaga dapur dan distribusi. Mereka bukan sekadar penerima manfaat, tetapi bagian dari ekosistem baru ekonomi kerakyatan yang tumbuh di sekitar program tersebut.
Pemerintah mencatat, hingga akhir 2025, lebih dari 418 ribu lapangan kerja telah tercipta dari pelaksanaan MBG. Jumlah itu tersebar di 38 provinsi, dengan lebih dari 11 ribu dapur pelayanan gizi beroperasi setiap hari. Di balik setiap dapur, ada puluhan warga yang bekerja mulai dari penyedia bahan pangan lokal, pengolah makanan, hingga petugas distribusi.
Kisah seperti Abi Nuraehan, petugas pencuci tray yang viral karena rasa syukurnya menerima gaji pertama dari MBG, adalah contoh nyata bahwa program ini menyentuh kehidupan rakyat kecil. Gaji yang mungkin tak seberapa bagi sebagian orang, menjadi berkah besar bagi mereka yang sebelumnya tak punya pekerjaan tetap.
Begitu juga cerita Sabdan Nur Seno yang bekerja di dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Cijayanti, tepatnya di SPPG Babakan Madang 02, Kabupaten Bogor. Ia juga bertugas mempimpin tim cuci tray makanan anak-anak.
Baginya, menjaga kebersihan peralatan makan adalah bagian penting agar ribuan porsi makanan bergizi bisa sampai dengan layak kepada anak-anak sekolah. Sabdan sudah delapan bulan bekerja di dapur MBG. Sebelumnya ia pernah bekerja di sebuah perusahaan di Kota Bogor.
Sabdan tinggal bersama ayahnya yang bekerja sebagai karyawan biasa, ibu yang tidak bekerja, dan dua adiknya yang masih sekolah. Penghasilannya ia gunakan untuk membantu menanggung biaya sekolah adik-adiknya sekaligus menabung.
Di SPPG Seyegan 01 yang memperkejakan sosok Suratina (63). Perempuan paruh baya yang tak kalah gesit dibanding para pekerja muda.
Suratina adalah seorang janda yang hidup sederhana bersama satu cucu laki-laki. Anak-anaknya telah menikah dan hidup mandiri. Ia menjadi satu-satunya penopang ekonomi keluarga kecilnya.
Pekerjaan di dapur MBG bukan hanya sebagai penghasilan tambahan, tapi juga tempat untuk mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang bermakna. Bagi Suratina, setiap porsi nasi yang dimasaknya mengandung kenangan. Ia menyisipkan cinta dalam setiap kotak makan yang dibagikan.
Yang menarik dari MBG bukan hanya dampak gizinya, tetapi juga konsep pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Pemerintah mendorong penggunaan bahan pangan dari petani dan nelayan lokal, sehingga uang yang berputar dari program ini tidak lari ke kota besar atau korporasi besar, melainkan beredar di tingkat desa dan kecamatan.
Dalam banyak kasus, ibu-ibu rumah tangga yang semula tidak memiliki penghasilan kini bisa bekerja di dapur MBG sambil tetap dekat dengan keluarga. Begitu pula pelaku UMKM kecil yang memproduksi bahan makanan, sayur, lauk, atau kemasan, kini memiliki pasar tetap dan pendapatan stabil.
Inilah esensi dari ekonomi kerakyatan — pembangunan yang bukan hanya menetes dari atas (trickle-down), tetapi tumbuh dari bawah, dari tenaga kerja lokal dan bahan pangan lokal.
Jika dijalankan dengan konsisten dan transparan, MBG dapat menjadi model baru pembangunan inklusif yang menggabungkan dimensi gizi, kesejahteraan, dan pemberdayaan ekonomi dalam satu kerangka besar.
Namun tentu saja, keberhasilan MBG tak boleh membuat kita lupa bahwa setiap program sosial harus dijalankan dengan pengawasan ketat dan komitmen integritas tinggi. Tantangan terbesar bukan hanya soal logistik dan pendanaan, melainkan memastikan agar setiap rupiah benar-benar berdampak bagi rakyat.
Program ini juga perlu dikawal agar tidak berubah menjadi sekadar proyek bantuan sesaat, melainkan terus bergerak menuju pemberdayaan berkelanjutan. Masyarakat bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga aktor pembangunan yang berdaya.
Dalam konteks yang lebih luas, MBG adalah bentuk nyata kehadiran negara yang peduli — bukan hanya memberi makan, tetapi memberi harapan dan harga diri. Di saat sebagian masyarakat kesulitan mencari pekerjaan, program ini datang sebagai pintu rezeki yang halal dan bermartabat.
Rasa syukur seperti yang ditunjukkan oleh Abi Nuraehan adalah simbol bahwa kerja keras dan niat baik pemerintah dapat bersentuhan langsung dengan nurani rakyat. Dari dapur-dapur sederhana di pelosok negeri, semangat gotong royong dan keberkahan rezeki itu hidup kembali.
Jika dikelola dengan baik, MBG bukan sekadar program pemenuhan gizi, tetapi gerakan nasional untuk menumbuhkan ekonomi rakyat — di mana setiap sendok nasi bergizi yang tersaji, mengandung kerja keras dan doa dari jutaan tangan yang turut berperan di baliknya.
































































