Jakarta – Di tengah ketidakpastian global dan mengerasnya proteksionisme di Amerika Serikat, Indonesia justru diproyeksikan mampu menjaga momentumnya. Sejumlah ekonom menilai perekonomian nasional memiliki fondasi yang semakin solid—bukan hanya karena konsumsi domestik yang kuat, tetapi juga karena hadirnya program-program ekonomi rakyat seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih.
Ekonom Lembaga Riset Prasasti, Piter Abdullah, menilai bahwa dua program tersebut bukan sekadar kebijakan sosial, tetapi penggerak sektor riil yang memperluas pasar, memperkuat produktivitas, dan menjaga daya beli masyarakat.
“Kalau seluruh otoritas dan sektor swasta bisa bergerak serempak, pertumbuhan 6 persen itu bukan hal yang mustahil—lebih dari itu pun bisa,” ujar Piter dikutip dari kumparan, Senin (1/12).
Piter bahkan menyebut target pertumbuhan 8 persen pada 2029, sebagaimana dicanangkan Presiden Prabowo, bukanlah angka utopis selama program-program strategis dijalankan secara konsisten dan terukur.
Optimisme ini juga datang dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Meski pemerintah dalam APBN 2026 menargetkan pertumbuhan 5,4 persen, ia percaya ekonomi dapat bergerak lebih cepat berkat kebijakan yang saat ini telah berjalan.
“Melihat arah kebijakan yang sekarang, saya kira kita bisa menuju 6 persen tahun depan,” kata Purbaya.
Dari sisi moneter, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan BI akan lebih agresif menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan. Ruang pelonggaran suku bunga masih terbuka, dan bank sentral siap memperkuat pembiayaan program prioritas pemerintah.
“MBG, Koperasi Merah Putih, hingga perumahan rakyat akan kami dukung penuh,” tegas Perry.
Sinyal paling konkret datang dari catatan BPS dalam rilis pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik, Moh Edy Mahmud, menyebut MBG telah menjadi kontributor nyata pertumbuhan, terutama di sektor riil.
Beberapa dampak pentingnya: Pertanian tumbuh 6,51%, didorong lonjakan permintaan ayam dan telur. Sub-sektor tanaman pangan melonjak 9,94%, dengan luas panen dan produktivitas yang meningkat. Industri pengolahan makanan-minuman tumbuh 6,49%, merespons permintaan MBG yang stabil.
Kemudian, konsumsi rumah tangga tetap kuat, bertumbuh 4,89% dan menyumbang 53,14% pada PDB. Ekonomi digital ikut terdorong, dengan transaksi e-commerce naik 6,19% secara kuartalan, terutama dari UMKM distributor pangan MBG.
Data tersebut menunjukkan bahwa MBG bukan hanya program sosial, tetapi instrumen ekonomi yang menstimulasi produksi, distribusi, dan konsumsi secara bersamaan.

































































