Jakarta – Hasil survei yang mencatat tingkat kepuasan publik sebesar 72,8 persen terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai sebagai sinyal penerimaan masyarakat. Namun, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Dr. Esther Sri Astuti, S.E., M.Si., mengingatkan agar angka tersebut tidak dibaca secara simplistik.
Menurut Esther, survei kepuasan memang penting sebagai indikator persepsi publik, tetapi kualitas metodologi menjadi faktor krusial dalam menilai validitasnya.
“Angka 72,8 persen tentu menunjukkan ada penerimaan masyarakat terhadap tujuan program. Namun publik juga perlu tahu berapa jumlah sampelnya, bagaimana sebaran respondennya, margin of error-nya, serta metode pengumpulan datanya,” ujar Esther di Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Ia menekankan, tanpa keterbukaan metodologi, angka kepuasan berpotensi ditafsirkan berbeda-beda. Dalam kebijakan publik berskala nasional seperti MBG, transparansi data menjadi bagian penting dari akuntabilitas.
Esther juga mengingatkan bahwa tingginya tingkat kepuasan tidak otomatis berarti implementasi program bebas dari persoalan. Program dengan cakupan jutaan penerima, menurutnya, hampir pasti menghadapi tantangan teknis di lapangan.
“Mayoritas puas bukan berarti tidak ada kendala. Dalam program sebesar ini, wajar jika masih ada kasus-kasus spesifik seperti distribusi yang terlambat atau kualitas makanan yang perlu diperbaiki. Itu harus dijadikan bahan evaluasi, bukan diabaikan,” katanya.
Ia menilai pemberitaan negatif yang muncul di media bisa saja merefleksikan kasus lokal tertentu, bukan gambaran keseluruhan. Namun demikian, setiap insiden tetap penting untuk ditangani secara sistematis agar tidak menggerus kepercayaan publik.
Investasi Jangka Panjang, Bukan Efek Instan
Lebih jauh, Esther menegaskan bahwa MBG sejatinya dirancang sebagai investasi pembangunan sumber daya manusia (SDM), bukan kebijakan populis untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam waktu singkat.
Berdasarkan kajian INDEF bersama United Nations Department of Economic and Social Affairs (UNDESA) menggunakan Model Overlapping Generation Indonesia (OG-IDN), dampak ekonomi program ini bersifat bertahap.
“MBG akan berdampak optimal ketika anak-anak penerima manfaat memasuki usia produktif. Jadi efeknya lebih terasa dalam jangka panjang,” ujarnya.
Simulasi menunjukkan peningkatan produktivitas tenaga kerja terjadi melalui perbaikan kesehatan dalam dua tahun awal, serta melalui jalur pendidikan sekitar enam tahun setelah implementasi. Puncak dampak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan muncul pada awal 2040-an, ketika kohort penerima mulai masuk pasar kerja.
Meski kenaikan PDB dalam model tergolong moderat, peningkatan konsumsi rumah tangga dan kesejahteraan lintas generasi dinilai lebih konsisten.
Dari sisi fiskal, Esther menilai keberlanjutan MBG sangat bergantung pada skema pembiayaan. Selama program dibiayai melalui realokasi anggaran dan bukan penambahan utang baru, stabilitas fiskal tetap terjaga.
“Desain fiskal netral menjadi kunci. Jika pembiayaan dilakukan lewat ekspansi defisit, tentu dampaknya berbeda,” ujarnya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya pembenahan tata kelola. Model sentralisasi penuh berisiko memperpanjang rantai distribusi dan melemahkan pengawasan di tingkat akhir.
INDEF mendorong pendekatan hibrida, di mana pemerintah pusat tetap mengendalikan anggaran, standar gizi, dan audit, sementara pelaksanaan teknis melibatkan pemerintah daerah, komite sekolah, dan pelaku usaha lokal.
“Pelibatan aktor lokal bisa memperkuat kontrol sosial dan mempercepat respons jika ada masalah. Namun tetap harus ada standar nasional yang ketat agar kualitas antarwilayah tidak timpang,” kata Esther.
Menurut Esther, keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari survei kepuasan, melainkan dari indikator hasil jangka panjang seperti penurunan stunting, perbaikan capaian pendidikan, serta peningkatan produktivitas tenaga kerja.
“Survei mencerminkan persepsi publik hari ini. Tetapi yang menentukan keberlanjutan program adalah dampak riil dan konsistensi tata kelola,” ujarnya.
Ia menegaskan, MBG merupakan investasi generasi yang hasilnya memang tidak instan. Karena itu, evaluasi program harus berbasis data dan terbuka terhadap perbaikan berkelanjutan.

































































