Jakarta — Ambisi meningkatkan kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini diarahkan pada satu hal: menghadirkan menu bergizi dengan standar tinggi tanpa membebani anggaran. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mendorong lahirnya inovasi menu melalui kolaborasi antara ahli gizi dan koki profesional.
Ia membayangkan suatu saat MBG memiliki ciri khas kuliner tersendiri—menu dengan kualitas layaknya hidangan hotel berbintang, namun tetap disajikan dalam batas biaya yang terjangkau.
“Ke depan, kita ingin ada inovasi dari ahli gizi dan chef, sehingga muncul menu khas MBG yang berkualitas tinggi tetapi tetap sesuai dengan anggaran bahan baku sekitar Rp10 ribu,” ujarnya, Kamis.
Menurut Dadan, tantangan tersebut menjadi semakin kompleks saat memasuki bulan Ramadan. Selain memenuhi standar gizi, makanan yang disajikan juga dituntut tetap segar sekaligus memiliki daya tahan lebih lama.
Kondisi ini menuntut kreativitas dalam pengolahan bahan, pemilihan menu, hingga teknik penyimpanan agar kualitas tetap terjaga meski waktu konsumsi berubah.
“Di Ramadan, kita butuh makanan yang tidak hanya bergizi dan segar, tapi juga tahan lama. Ini yang perlu inovasi,” katanya.
Di sisi lain, ekspansi program MBG yang masif turut menghadirkan tantangan tersendiri. Dalam setahun terakhir, jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melonjak drastis dari sekitar 1.000 unit menjadi sekitar 25 ribu unit yang tersebar di berbagai daerah.
Lonjakan ini, menurut Dadan, membuat pengawasan kualitas harus bekerja lebih ekstra. Ia mengakui adanya sejumlah kecil kasus yang menjadi perhatian publik, namun menilai hal tersebut tidak mencerminkan keseluruhan pelaksanaan program.
“Kalau dari puluhan ribu unit hanya puluhan yang bermasalah, secara persentase kecil, tetapi memang itu yang terlihat oleh publik,” jelasnya.
Meski demikian, BGN memastikan evaluasi terus dilakukan secara internal. Standar operasional prosedur (SOP) dan petunjuk teknis menjadi acuan utama untuk menjaga konsistensi layanan di seluruh wilayah.
Dadan menegaskan, tidak boleh ada kompromi terhadap kualitas, terutama karena program ini menyasar pemenuhan gizi masyarakat secara luas.
“Perbaikan harus terus dilakukan agar kualitas merata dan tidak ada yang menyimpang dari standar yang sudah ditetapkan,” tegasnya.
Dengan dorongan inovasi dan penguatan sistem, MBG diharapkan tidak hanya menjadi program bantuan pangan, tetapi juga model layanan gizi publik yang berkualitas dan berkelanjutan.
































































