Jakarta — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan. Tak hanya berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat, program prioritas pemerintah ini kini menjadi motor penggerak baru bagi pelaku usaha kecil di berbagai daerah.
Menteri Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Maman Abdurrahman, mengungkapkan hingga saat ini sebanyak 57.600 UMKM telah terlibat sebagai pemasok dalam ekosistem program MBG.
Menurut Maman, angka tersebut menunjukkan bahwa manfaat MBG tidak berhenti pada aspek sosial, tetapi juga mulai membentuk rantai ekonomi yang luas.
“Program ini bukan hanya soal makanan bergizi, tetapi juga tentang bagaimana ekonomi lokal ikut bergerak,” ujarnya dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta, Senin (18/5).
Selain UMKM, rantai pasok MBG juga melibatkan sekitar 12 ribu koperasi, 1.358 BUMDes, serta lebih dari 64 ribu pemasok dari berbagai sektor. Bahkan, 662 Koperasi Desa Merah Putih juga tercatat masuk dalam ekosistem distribusi program tersebut.
Maman menjelaskan, keterlibatan para pelaku usaha ini sangat beragam. Mereka memasok kebutuhan dapur mulai dari bahan pokok seperti beras, telur, ayam, tahu, tempe, sayur, dan buah, hingga bahan pendukung seperti minyak goreng, tepung, kecap, air bersih, sabun cuci, dan gas.
Dengan skala sebesar itu, MBG dinilai mulai menciptakan pasar baru yang memberi ruang tumbuh bagi usaha kecil dan menengah.
Menanggapi kritik soal dominasi pengusaha menengah dalam pembangunan dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Maman menilai hal itu wajar karena pembangunan fasilitas membutuhkan modal besar.
Namun, ia menegaskan fokus pemerintah justru memastikan pelaku usaha mikro dan kecil mendapat ruang luas dalam rantai pasok.
“Yang justru harus disoroti adalah apakah keterlibatan usaha mikro dan kecil dalam rantai pasok itu sudah dibuka seluas-luasnya,” tegasnya.
Maman mengakui pelaksanaan MBG masih menyisakan sejumlah catatan yang perlu dibenahi. Namun ia meminta publik melihat gambaran besarnya: program ini berpotensi menciptakan ekosistem ekonomi baru dengan nilai perputaran dana yang diperkirakan mencapai Rp300 triliun sepanjang tahun ini.
Jika berjalan optimal, kata dia, MBG bukan hanya akan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu pengungkit ekonomi nasional dari level akar rumput.

































































