Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026. Peningkatan belanja pemerintah melalui program prioritas tersebut tercatat memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan konsumsi pemerintah sekaligus mendorong aktivitas di sejumlah sektor usaha.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 5,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Salah satu faktor yang menopang pertumbuhan tersebut adalah meningkatnya realisasi belanja barang dan jasa pemerintah, terutama penyaluran barang kepada masyarakat melalui Program Makan Bergizi Gratis.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat pada periode tersebut.
“Konsumsi pemerintah pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 15,97 persen secara tahunan. Peningkatan ini didorong oleh realisasi belanja barang dan jasa, khususnya belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat melalui Program Makan Bergizi Gratis,” ujar Edy dalam konferensi pers rilis BPS, Rabu (5/8).
Menurutnya, dampak MBG tidak hanya tercermin pada meningkatnya konsumsi pemerintah, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap berbagai sektor ekonomi yang terkait dengan penyediaan makanan dan layanan pendukung.
Salah satu sektor yang mencatat pertumbuhan tinggi adalah lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 10,60 persen secara tahunan. Kinerja positif tersebut ditopang oleh meningkatnya aktivitas jasa boga serta tingkat hunian hotel yang lebih baik.
Edy menyebut perkembangan tersebut berjalan seiring dengan semakin luasnya pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di berbagai daerah.
“Pertumbuhan sektor ini sejalan dengan semakin bertambahnya cakupan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis,” katanya.
Program MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi daerah melalui pemberdayaan rantai pasok pangan lokal.
Pemerintah sebelumnya menargetkan jumlah penerima manfaat program tersebut mencapai sekitar 80 juta orang pada pertengahan 2026, dengan sasaran jangka panjang sebanyak 82,9 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Hingga pertengahan tahun 2026, pelaksanaan MBG telah menjangkau lebih dari 62 juta penerima manfaat, yang terdiri atas peserta didik di berbagai jenjang pendidikan, santri, balita, ibu hamil, serta ibu menyusui.
Data BPS tersebut menunjukkan bahwa selain memberikan manfaat sosial melalui peningkatan akses masyarakat terhadap makanan bergizi, Program MBG juga mulai memberikan kontribusi nyata terhadap pergerakan ekonomi nasional melalui peningkatan belanja pemerintah dan aktivitas sektor usaha yang terkait dengan penyediaan pangan.

























































