Jakarta – Guru Besar FEB Universitas Indonesia sekaligus pendiri Rumah Perubahan, Prof. Rhenald Kasali, melihat pengalaman para penyintas terorisme sebagai pengingat bahwa sebuah tragedi tidak semestinya berhenti sebagai luka. Ingatan terhadap peristiwa kelam justru dapat diubah menjadi pembelajaran untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Menurut Rhenald, mengingat sebuah tragedi bukan berarti seseorang harus terus terjebak dalam masa lalu. Ingatan dapat menjadi ruang untuk memahami pengalaman, mengambil pelajaran, sekaligus mencegah kebencian yang sama diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kita sering mendengar istilah healing through memories. Ini bukan berarti kita hidup terus-menerus di masa lalu, melainkan menjadi pengingat agar kebencian tidak diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Rhenald diJakarta, Jumat (21/8).
Ia menekankan, para korban maupun mereka yang telah meninggal akibat sebuah tragedi tidak seharusnya hanya dikenang berdasarkan bagaimana mereka kehilangan nyawa atau mengalami penderitaan.
Menurut Rhenald, jauh lebih penting untuk meneruskan nilai-nilai kehidupan yang mereka tinggalkan. Dengan cara itu, ingatan terhadap tragedi tidak berhenti pada kesedihan, tetapi dapat menjadi energi untuk memperbaiki kehidupan di masa depan.
“Kita mengingat mereka yang telah mendahului kita, bukan hanya dikenang karena cara mereka meninggal, melainkan bagaimana kita membawa nilai-nilai mereka bersama kita untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik,” lanjutnya.
Pesan tersebut menjadi penting dalam konteks pemulihan korban terorisme. Ketika pengalaman pahit tidak lagi diwariskan dalam bentuk kebencian, sebuah tragedi dapat melahirkan pelajaran yang justru memperkuat perdamaian.
Dengan demikian, mengenang korban bukan sekadar mengingat peristiwa yang pernah terjadi, melainkan memastikan bahwa kehidupan setelah tragedi dapat berjalan dengan membawa nilai kemanusiaan, pengampunan, dan perdamaian.































































