YOGYAKARTA – Ancaman ideologi ekstrem yang menyasar generasi muda melalui ruang digital membuat kampus mengambil peran lebih aktif. Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) resmi menjalin kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam upaya pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan.
Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tersebut dilaksanakan di Kantor Bupati Sleman, Jumat (2/10/2026). Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 8 Tahun 2026 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) 2026-2029, terutama pada Tema 8 Aksi 2 terkait optimalisasi peran perguruan tinggi.
Forum yang mengangkat tema “Optimalisasi Peran Perguruan Tinggi dalam Mendukung Pemulihan Psikologis dan Pembangunan Resiliensi Korban serta Kelompok Rentan” ini diikuti 15 perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X melalui Kepala Badan Kesbangpol DIY Lilik Andi Aryanto menegaskan, kampus menjadi ruang paling strategis untuk menjaga nilai-nilai Pancasila.
Ia menyebut perguruan tinggi harus menjadi ruang dialog, melatih berpikir kritis, dan membiasakan keterbukaan terhadap perbedaan tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan. Di tengah masifnya infiltrasi ideologi transnasional, kampus adalah benteng terbaik agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik.
Hal senada disampaikan Kepala BNPT Komjen Pol. (Purn) Eddy Hartono. Ia menekankan, ancaman radikalisme saat ini tidak bisa dihadapi sendiri. Pola rekrutmen melalui pertemuan daring dan propaganda di media sosial, seperti yang ditemukan Densus 88 di Bandung dan beberapa provinsi lain, menunjukkan pentingnya kerja kolektif.
“Kita berwajiban untuk menjaga anak-anak kita yang menjadi penerus ke depan. Kita bukan superman, tapi super team. Model pendampingan dan kerja sama di DIY ini diharapkan memberikan dampak luas dan menjadi percontohan bagi daerah lain,” ujar Eddy.
BNPT bahkan menjadikan DIY sebagai pilot project nasional untuk program penguatan resiliensi bagi korban dan kelompok rentan di lingkungan pendidikan.
Rektor UMBY, Dr. Ir. Agus Slamet, menegaskan komitmennya untuk terlibat aktif. Baginya, kerja sama ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud nyata dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“UMBY siap mengambil peran aktif dan berkontribusi nyata dalam menjaga kondusivitas serta keselamatan bangsa. Bagi kami, kampus tidak hanya berfungsi sebagai wadah akademis, tetapi juga harus menjadi benteng moral dan ruang aman yang mampu melakukan deteksi dini serta pencegahan paham ekstremisme di lingkungan civitas akademika,” tegasnya.
Melalui kemitraan ini, UMBY bersama 14 kampus lain di DIY akan fokus pada dua aspek utama, yakni pendampingan pemulihan psikologis bagi korban dan pembangunan ketahanan bagi kelompok rentan.
Gerakan dari Yogyakarta ini melengkapi upaya serupa yang telah dilakukan di Surakarta, Kupang, dan Bandung. Jika di Bandung ketahanan diuji hingga level RW dan kos-kosan, maka di Yogyakarta ketahanan dibangun dari ruang kelas dan laboratorium kampus.
Langkah ini menjadi bukti bahwa Pancasila tetap relevan, ketika kampus tidak hanya melahirkan sarjana, tetapi juga ikut menjaga keutuhan bangsa dari ancaman ideologi ekstrem dan politik pecah belah.

































































