Jakarta – Dua mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) menyatakan organisasi yang didirikan 70 tahun lalu itu merupakan “ibu kandung” dari seluruh kelompok terorisme di Indonesia dengan para anggota yang menjadi “mesin pembunuh,” ketika berpindah ke kelompok teror lain.
Dua mantan anggota NII, Ken Setiawan dan Al Chaidar, mengatakan hal ini menyusul penangkapan 21 anggota NII di Sumatra Barat dan Tangerang Selatan dalam beberapa minggu terakhir. Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan, mengatakan sebagai “ibu kandung” kelompok teroris di Indonesia, mereka berbaya karena bertujuan untuk menggulingkan negara yang sah.
“Umat Islam harus tinggal di negara Islam, menggunakan hukum Islam. Mereka tidak bisa hidup beraneka ragam suku, agama dan budaya,” kata Ken dalam keterangannya, Kamis (14/4/2022).
Ken menambahkan, beragam aksi teror di Indonesia yang dilancarkan baik oleh Jamaah Islamiyah (JI) hingga Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi ke ISIS memiliki kaitan dengan organisasi NII, dengan sebagian besar dari para pelaku teror adalah anggota NII.
“Banyak kasus terorisme bersumber dari NII yang anggotanya berganti baju menjadi JI, JAT, JAD, dan lainnya. Kebetulan yang di Sumatera Barat mengaku NII sehingga menunjukkan bahwa organisasi ini masih sangat aktif,” kata Ken.
Hal serupa dikatakan pengamat terorisme yang juga mantan anggota NII, Al Chaidar. Ia mengatakan banyak kelompok terorisme yang merekrut anggota NII, seperti pengebom dari kalangan NII di ring Banten, Bekasi dan lainnya.
“Banyak di antara mereka ketika berpindah ke JI, JAT, dan JAD, menjadi sangat militan, berbahaya, dan menjadi mesin pembunuh. Biasanya mereka pindah karena kecewa terhadap NII yang tidak bertindak,” kata Al Chaidar.
































































