Jakarta – Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak menunjukkan keinginan untuk mencapai perdamaian di Ukraina. Macron juga menyatakan bahwa Putin belum siap untuk memulai negosiasi guna mengakhiri perang.
Pernyataan ini disampaikan Macron pada Minggu (17/11), setelah Rusia meluncurkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur listrik di Ukraina. Saat berada di Argentina, Macron mengatakan kepada wartawan bahwa “Presiden Putin jelas berniat memperburuk konflik,” seperti dilaporkan oleh kantor berita AFP pada Senin (18/11).
Presiden Prancis itu menambahkan bahwa ia hanya akan melakukan komunikasi langsung dengan Putin jika situasinya mendukung.
Pada hari yang sama, Rusia melancarkan serangan terbesar selama tiga tahun terakhir di Kyiv dan wilayah sekitarnya, termasuk Sloviansk di Donetsk. Militer Rusia meluncurkan lebih dari 120 rudal dan 90 drone, menyebabkan ledakan dahsyat yang merusak infrastruktur utama dan mengakibatkan pemadaman listrik di banyak wilayah Ukraina.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa serangan udara ini telah menghancurkan setengah dari kapasitas produksi energi negara tersebut. Pemadaman listrik yang meluas menjadi perhatian besar menjelang musim dingin ekstrem, yang memerlukan pasokan energi untuk pemanas.
Zelensky sebelumnya menyatakan harapannya untuk mengakhiri perang melalui jalur diplomasi pada tahun depan. Ia juga menyebut keinginannya agar konflik tidak berkepanjangan, terutama jika Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS. “Kita harus berupaya agar perang ini berakhir tahun depan melalui cara-cara diplomatik,” ujarnya dalam wawancara dengan radio Ukraina pada Sabtu (16/11).

































































