Jakarta — Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi IPB University, Prof. Dr. Ahmad Sulaeman, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak semestinya dipersepsikan sebagai beban bagi sektor pendidikan. Menurutnya, gizi dan pendidikan merupakan dua entitas yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan sumber daya manusia.
“Justru ini bagian dari pendidikan. MBG itu bagian dari pendidikan, juga untuk membangun nasionalisme bagaimana mengentaskan kemiskinan. Jangan diadu domba dengan peran guru, dua-duanya harus jalan,” ujar Prof. Ahmad dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Ia menjelaskan bahwa pemenuhan gizi anak memiliki basis ilmiah yang kuat dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa anak dengan asupan gizi seimbang memiliki konsentrasi lebih baik, daya ingat lebih kuat, dan performa akademik yang lebih stabil.
Praktik pemenuhan gizi melalui program makan sekolah, lanjutnya, telah lama diterapkan di negara maju. Di Amerika Serikat, misalnya, School Breakfast Program dan National School Lunch Program menjadi kebijakan nasional untuk memastikan siswa siap belajar tanpa terganggu persoalan kebutuhan dasar.
“Sekolah mengambil peran aktif dalam pemenuhan gizi siswa sehingga anak tidak lagi terbebani persoalan sarapan atau makan siang. Pendekatan ini terbukti efektif mendukung kesehatan dan kesiapan belajar,” katanya.
Selain dampak pendidikan, Prof. Ahmad menilai MBG berpotensi menciptakan multiplier effect ekonomi jika dirancang dengan baik, termasuk melibatkan UMKM, petani, dan produsen pangan lokal dalam rantai pasok nasional. Pengalaman program Women, Infant, and Child (WIC) di Amerika Serikat juga menunjukkan intervensi gizi negara dapat berjalan seiring dengan penguatan sektor pertanian dan kesejahteraan masyarakat. (Ant)

































































