Jakarta — Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan pemerintah terus memperkuat kemandirian nasional di tengah dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu. Menurutnya, prinsip kemandirian telah menjadi garis kebijakan yang konsisten, terlepas dari kondisi dunia yang berubah.
“Arahannya dari dulu sudah jelas, dalam kondisi apa pun kita berusaha untuk mandiri,” ujar Prasetyo saat ditemui di kompleks DPR/MPR RI, Jakarta, Senin.
Pernyataan itu disampaikan Prasetyo merespons spekulasi mengenai potensi eskalasi konflik global, termasuk kekhawatiran sebagian pihak terhadap kemungkinan konflik berskala luas. Ia menegaskan bahwa pemerintah tetap fokus pada penguatan fondasi nasional agar Indonesia tidak rentan terhadap guncangan eksternal.
Prasetyo menjelaskan bahwa agenda kemandirian mencakup sektor-sektor strategis, seperti pangan, energi, dan ekonomi nasional. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas domestik apabila terjadi krisis global atau gangguan rantai pasok internasional.
“Pertama tentu mandiri pangan, kemudian mandiri energi, dan mandiri ekonomi. Supaya kalau terjadi sesuatu, kita tidak bergantung pada pihak lain,” katanya.
Sikap tersebut sejalan dengan pesan Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya pada Annual Meeting World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss. Dalam forum global itu, Prabowo menegaskan Indonesia memilih jalur perdamaian dan stabilitas sebagai prinsip politik luar negeri.
“Jika Anda ingin mengambil satu hal dari pidato saya hari ini, inilah pesannya: Indonesia memilih perdamaian daripada kekacauan,” kata Prabowo di hadapan para pemimpin negara, ekonom, investor, dan akademisi dunia.
Ia menambahkan bahwa Indonesia ingin menjadi sahabat bagi semua negara dan tidak memusuhi pihak mana pun. Prinsip tersebut, menurut Prabowo, menjadi dasar kebijakan luar negeri Indonesia yang mengedepankan persahabatan, tanggung jawab global, stabilitas, dan keberlanjutan. (Ant)
































































