Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai mendapat respons positif dari para penerima manfaat pada fase awal pelaksanaannya. Temuan tersebut merupakan hasil riset yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di dua wilayah percontohan, yakni Jawa Barat dan Kepulauan Bangka Belitung.
Ketua Tim Peneliti Program MBG BRIN, Iwan Hermawan, mengatakan hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa penerima program menunjukkan antusiasme tinggi terhadap makanan yang disediakan di sekolah.
“Hasil riset menunjukkan pelaksanaan MBG secara umum diterima dengan baik oleh penerima manfaat, yang tercermin dari persepsi positif serta antusiasme siswa dalam menerima makanan di sekolah,” kata Iwan dalam keterangan resmi, Rabu (4/3/2026).
Pemilihan dua wilayah tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran pelaksanaan program yang lebih beragam. Kepulauan Bangka Belitung dipilih sebagai representasi daerah kepulauan, sementara Jawa Barat mewakili wilayah dengan dukungan infrastruktur yang relatif lebih baik.
Hasil penelitian itu telah dirangkum dalam bentuk policy brief dan model rekomendasi kebijakan yang ditujukan untuk mendukung penyempurnaan implementasi program MBG. BRIN juga berencana melanjutkan riset hingga 2027 guna menghasilkan analisis yang lebih komprehensif.
Menurut Iwan, penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan dalam memperbaiki tata kelola program sehingga pelaksanaannya dapat berjalan lebih efektif, efisien, dan akuntabel.
Selain mencatat respons positif masyarakat, tim peneliti juga menyoroti sejumlah tantangan yang muncul pada tahap awal implementasi program. Berbagai catatan tersebut menjadi dasar bagi penyusunan rekomendasi kebijakan guna meningkatkan kualitas pelaksanaan MBG di berbagai daerah.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN, Agus Eko Nugroho, menilai program MBG memiliki dampak strategis dalam pembangunan nasional.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi anak sekolah, tetapi juga berpotensi mendorong penguatan sektor pangan, meningkatkan daya beli rumah tangga, serta menggerakkan aktivitas ekonomi di daerah.
“Program MBG menyentuh pembangunan sumber daya manusia sekaligus memberi efek ekonomi yang lebih luas,” ujarnya.
Melalui riset ini, BRIN berupaya mengevaluasi tata kelola pelaksanaan program di daerah sekaligus mengukur efektivitasnya pada fase awal implementasi yang dimulai pada 2025.
Agus menambahkan, penelitian mengenai program MBG akan terus dilanjutkan dengan pendekatan multidisiplin agar dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang lebih kuat.
“Riset ini akan terus dikembangkan dengan semangat science for science, science for policy, dan science for society,” kata Agus.

































































