Karangasem – Perayaan Idulfitri 1447 Hijriah di Karangasem kembali menghadirkan potret kuat toleransi antarumat beragama. Di tengah ribuan jemaah Muslim yang memadati Lapangan Tanah Aron, kehadiran pecalang—petugas keamanan adat Bali—menjadi simbol nyata harmoni yang terjaga.
Sejak pagi hari, jemaah mulai berdatangan untuk melaksanakan Salat Id. Di antara kerumunan tersebut, belasan pecalang dengan busana adat khas lengkap dengan kain poleng hitam-putih tampak sigap mengatur arus lalu lintas dan membantu kelancaran mobilitas warga.
Keterlibatan pecalang bukan hal baru. Ketua Pecalang Desa Adat Karangasem, I Gede Putu Budiasa, menegaskan bahwa pengamanan kegiatan keagamaan lintas umat sudah menjadi tradisi yang dijaga turun-temurun.
“Ini bentuk nyata toleransi di Karangasem. Kami tidak hanya mengamankan Idulfitri, tetapi juga perayaan keagamaan lain seperti Natal,” ujarnya.
Sebanyak 13 pecalang diterjunkan khusus untuk pengamanan di Lapangan Tanah Aron, sementara personel lainnya disiagakan di sejumlah titik, termasuk area masjid. Mereka bekerja berdampingan dengan aparat dari Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia guna memastikan situasi tetap aman dan kondusif.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Pelaksanaan Salat Id berlangsung tertib dan lancar tanpa hambatan berarti, mencerminkan kuatnya rasa saling menghormati di tengah keberagaman.
Bagi jemaah seperti Kurban Husein, momen salat berjemaah di ruang terbuka seperti ini memiliki makna tersendiri. Selain lebih khusyuk, ia juga merasakan kebersamaan yang lebih erat dengan sesama umat.
Kehadiran pecalang dalam pengamanan Salat Id ini bukan sekadar tugas, melainkan pesan kuat bahwa perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk saling menjaga. Dari Karangasem, Bali kembali menunjukkan bahwa toleransi dapat hidup dan tumbuh melalui tindakan nyata, bukan sekadar wacana.

































































