Yogyakarta – Pemerintah Kalurahan Condongcatur menggelar patroli dan sambang saat perayaan Paskah, Sabtu (4/4/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung di wilayah Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, ini menjadi langkah menjaga keamanan sekaligus memperkuat kerukunan antarumat beragama.
Patroli dipimpin Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, bersama Kapolsek Depok Timur, unsur Jagabaya, Satlinmas, Jagawarga, serta Dukuh Pringwulung. Rombongan menyambangi sejumlah lokasi ibadah, termasuk Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Pringwulung yang menjadi pusat perayaan Paskah umat Katolik setempat.
Dukuh Pringwulung, Sahid Fahrudin, mengatakan kehadiran pemerintah kalurahan dan aparat tidak hanya berfokus pada pengamanan, tetapi juga sebagai upaya mempererat hubungan lintas agama di tengah masyarakat.
“Melalui patroli ini kami ingin memperkuat silaturahmi sekaligus menjaga kerukunan antarumat beragama di Condongcatur,” ujarnya.
Ia menambahkan, misa Paskah di Gereja Santo Yohanes Rasul Pringwulung dilaksanakan secara berjemaah dan juga disiarkan secara daring melalui kanal YouTube Yoras Pringwulung. Langkah tersebut dilakukan agar umat yang tidak dapat hadir tetap dapat mengikuti ibadah.
Sementara itu, Reno Candra Sangaji berharap momentum Paskah membawa pesan damai bagi seluruh warga. Ia menilai perayaan keagamaan menjadi ruang memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.
“Selamat merayakan Paskah. Semoga momentum ini menghadirkan harapan, kebahagiaan, dan mendorong kita semua untuk terus menebarkan kedamaian di lingkungan,” katanya.
Rombongan patroli disambut Romo Bernadus Irawan Heryuwono, Pr., bersama panitia gereja. Ia mengapresiasi perhatian pemerintah kalurahan dan aparat keamanan yang dinilai memberi rasa aman bagi umat selama menjalankan ibadah.
Menurutnya, ibadah Malam Paskah diikuti sekitar 5.300 jemaat yang dibagi dalam dua sesi, yakni pukul 16.00 WIB dan 20.00 WIB. Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan kondusif.
Kehadiran pemerintah dan aparat dalam patroli tersebut dinilai menjadi simbol kuat toleransi di wilayah Sleman, sekaligus menunjukkan komitmen menjaga harmoni sosial selama perayaan keagamaan berlangsung.

































































