Kubu Raya – Kalangan pelajar dinilai menjadi kelompok yang rentan terhadap paparan paham radikal, terutama di tengah derasnya arus informasi digital. Karena itu, sekolah, keluarga, dan lingkungan pertemanan perlu memperkuat peran sebagai sistem perlindungan dini sebelum radikalisme berkembang menjadi tindakan kekerasan.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Barat, Dr. Yusriadi, MA, dalam dialog interaktif yang digelar Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar di Kubu Raya, Senin (27/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan unsur pemerintah daerah, praktisi pendidikan, hingga aparat keamanan untuk membahas strategi pencegahan ekstremisme di lingkungan sekolah.
Dalam pemaparannya, Yusriadi menekankan bahwa radikalisme tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses bertahap. Tahapan tersebut dapat dimulai dari rasa kecewa, pencarian identitas, hingga penerimaan narasi yang membenarkan kekerasan. Jika tidak diintervensi sejak awal, proses ini berpotensi berujung pada tindakan ekstrem.
Ia menjelaskan, radikalisme berbeda dengan terorisme. Radikalisme berada pada tahap ide dan keyakinan yang eksklusif, sementara terorisme merupakan aksi nyata yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan tertentu. Meski berbeda, keduanya saling berkaitan karena radikalisme sering menjadi pintu masuk menuju tindakan teror.
Menurutnya, kerentanan pelajar dipengaruhi banyak faktor, mulai dari perundungan, minimnya komunikasi keluarga, lemahnya literasi digital, hingga paparan konten ekstrem di media sosial dan komunitas daring. Kondisi tersebut diperparah jika anak tidak memiliki ruang aman untuk bercerita atau mendapatkan pendampingan.
Yusriadi juga menekankan bahwa anak yang terpapar tidak seharusnya langsung diberi label negatif. Pendekatan yang lebih tepat adalah pendampingan dan pencegahan, dengan memperkuat literasi digital, layanan konseling, serta kolaborasi lintas sektor.
Ia menilai titik paling krusial dalam proses radikalisasi adalah ketika simpati terhadap suatu isu berubah menjadi pembenaran terhadap kekerasan. Pada fase ini, peran guru, orang tua, dan teman sebaya menjadi sangat penting untuk mencegah eskalasi lebih jauh.
Sebagai langkah konkret, FKPT Kalbar mendorong terbentuknya ekosistem pencegahan yang melibatkan empat unsur utama, yakni sekolah sebagai ruang aman dan inklusif, guru BK sebagai detektor dini, teman sebaya sebagai pengawas sosial terdekat, serta keluarga sebagai fondasi emosional dan kontrol penggunaan media digital. Sinergi keempat elemen tersebut diyakini mampu memutus rantai radikalisasi sejak tahap awal.

































































