WASHINGTON DC — Gelaran Piala Dunia FIFA 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko kini tak hanya menjadi perhatian dunia olahraga, tetapi juga komunitas keamanan global.
Di balik euforia turnamen sepak bola terbesar dunia itu, para pakar kontraterorisme memperingatkan meningkatnya potensi ancaman keamanan, mulai dari serangan pelaku tunggal (lone wolf), penggunaan drone, hingga dampak ketegangan geopolitik internasional.
Berbeda dengan ancaman teror konvensional yang terorganisasi, analis keamanan menilai tantangan terbesar justru datang dari pelaku ekstremis domestik—individu yang bergerak sendiri setelah terpapar radikalisme melalui internet, baik dari kelompok ekstrem kanan maupun jaringan jihad seperti ISIS.
Mantan pejabat keamanan nasional AS sekaligus profesor di University of Michigan, Javed Ali, mengatakan kompleksitas pengamanan Piala Dunia 2026 jauh melampaui ajang olahraga biasa.
“Kami tidak hanya melindungi stadion, tetapi seluruh ekosistem pendukung pertandingan. Ada begitu banyak lokasi dan potensi ancaman, sementara sumber daya keamanan tetap terbatas,” ujarnya.
Sebagai bentuk antisipasi, Federal Bureau of Investigation (FBI) pada Maret 2026 telah menggelar simulasi besar penanganan ancaman domestik yang melibatkan agen dari berbagai wilayah.
Latihan itu menunjukkan betapa luasnya cakupan pengamanan yang harus disiapkan, terutama karena turnamen akan berlangsung selama enam pekan dengan total 104 pertandingan di tiga negara.
Mayoritas laga, sebanyak 78 pertandingan, akan digelar di Amerika Serikat, tersebar di kota-kota besar seperti Atlanta, Boston, Dallas, Houston, Los Angeles, Miami, Philadelphia, Seattle, hingga New Jersey.
Pemerintah AS bahkan menetapkan laga final di MetLife Stadium sebagai National Special Security Event (NSSE), status keamanan tertinggi yang menempatkan pengamanan langsung di bawah koordinasi United States Secret Service dengan dukungan FBI dan Federal Emergency Management Agency (FEMA).
Namun, menurut para pakar, ancaman tidak berhenti di dalam stadion.
Justru yang paling rawan adalah soft target seperti hotel, pusat transportasi, kawasan wisata, hingga titik nonton bareng yang diperkirakan akan dipadati jutaan orang.
Direktur riset Soufan Group, Colin Clarke, menyebut drone sebagai ancaman baru yang sulit diabaikan.
“Kerumunan besar di luar stadion tetap sangat rentan. Drone kini murah, mudah diakses, dan bisa digunakan oleh aktor nonnegara maupun jaringan teroris,” katanya.
Selain ancaman teknologi, koordinasi antarlembaga keamanan juga menjadi sorotan.
Mantan agen Central Intelligence Agency (CIA) dan FBI, Tracy Walder, menilai kegagalan berbagi informasi kerap menjadi celah terbesar.
“Kelemahan utama biasanya muncul ketika FBI, Homeland Security, dan aparat lokal tidak terhubung secara efektif,” ujarnya.
Kekhawatiran lain muncul dari situasi geopolitik yang memanas, terutama hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Potensi laga Amerika Serikat melawan Iran di Texas pada 3 Juli 2026—berdekatan dengan Hari Kemerdekaan AS—dinilai sebagai pertandingan berisiko tinggi.
Sensitivitas keamanan juga meningkat setelah muncul laporan bahwa keluarga kerajaan Arab Saudi telah memesan satu hotel penuh di Houston selama turnamen, di tengah rivalitas panjang Riyadh dan Teheran.
Meski begitu, Javed Ali menilai ancaman “sel tidur” Iran di AS tidak sebesar yang banyak dikhawatirkan.
“Iran tidak memiliki jaringan besar untuk melancarkan serangan langsung berskala besar di sini,” katanya.
Namun ia mengingatkan bahwa ancaman paling sulit dideteksi tetap berasal dari individu yang bergerak spontan setelah terpapar ideologi ekstrem.
Di tengah berbagai skenario ancaman itu, satu pesan menjadi jelas: Piala Dunia 2026 bukan hanya ujian bagi kemampuan tim-tim sepak bola dunia, tetapi juga ujian besar bagi sistem keamanan internasional.
































































