Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai bukan sekadar pembagian makanan di sekolah, tetapi langkah strategis negara untuk mengatasi persoalan gizi pada anak-anak, khususnya dari keluarga rentan.
Pandangan itu disampaikan perwakilan Bidang Ilmiah Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kota Surakarta, Dewi Marfuah. Menurutnya, salah satu persoalan yang masih banyak ditemukan di lapangan adalah anak-anak yang berangkat sekolah tanpa sarapan karena keterbatasan ekonomi keluarga.
“Harapannya, program MBG ini bisa menggantikan satu waktu makan yang sering hilang, terutama sarapan,” ujar Dewi.
Ia mengungkapkan, selama mendampingi kegiatan pengabdian di sejumlah sekolah, jumlah siswa yang datang tanpa sarapan kerap lebih banyak dibandingkan mereka yang sempat makan pagi di rumah. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan bahwa intervensi negara melalui MBG memang sangat dibutuhkan.
Pandangan tersebut juga diperkuat hasil riset Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) pada Februari 2026 yang menunjukkan 81 persen keluarga rentan mendukung keberlanjutan program MBG, terutama di kota-kota kecil, karena dianggap mampu memberi kepastian asupan nutrisi bagi anak sekolah.
Dewi menjelaskan, secara konsep MBG dirancang untuk memenuhi sekitar seperempat hingga sepertiga kebutuhan gizi harian penerimanya.
“Menu yang diberikan mencakup karbohidrat, lauk hewani, lauk nabati, sayuran, hingga buah. Dengan asupan gizi seimbang seperti itu, anak-anak diharapkan memiliki energi yang cukup dan bisa lebih fokus belajar,” jelas dosen Program Studi Gizi Universitas Muhammadiyah PKU Surakarta itu.
Namun, keberhasilan program ini, kata Dewi, tidak hanya bergantung pada distribusi makanan, tetapi juga evaluasi berkelanjutan terhadap kualitas menu dan tingkat penerimaan siswa.
Ia menilai peran ahli gizi di lapangan sangat penting, termasuk dalam memantau food waste atau sisa makanan yang tidak dikonsumsi siswa.
“Kalau sisa makanan banyak, berarti ada yang perlu dievaluasi. Bisa jadi rasa, tekstur, atau menu yang kurang sesuai dengan selera anak-anak,” katanya.
Karena itu, Dewi mendorong keterlibatan aktif guru dan orang tua untuk ikut memberi masukan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi jika menemukan menu yang kurang tepat atau tidak diminati siswa.
Menurutnya, pengawasan bersama akan membuat program ini semakin efektif dan tepat sasaran.
“Ketika anak-anak mendapat makanan yang aman, sehat, dan bergizi, kita sebenarnya sedang membangun fondasi generasi Indonesia yang lebih cerdas, sehat, dan kompetitif di masa depan,” tutupnya.
































































