JAKARTA – Cendekiawan Prof. Yudi Latif PhD, mengajak masyarakat memanfaatkan ruang digital sebagai sarana memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan membangun kontranarasi terhadap penyebaran intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Menurutnya, derasnya arus informasi di media sosial harus diimbangi dengan konten-konten yang memperkuat persatuan, toleransi, dan semangat kebangsaan.
Pandangan tersebut disampaikan Yudi Latif dalam diskusi bertajuk “Memperkuat Nasionalisme Kebangsaan dan Menyiapkan Generasi Pemimpin dalam Mendukung Swasembada Pangan Nasional di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global” yang dirangkaikan dengan peluncuran Vardhana Nawasena Network (VNN) di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Dalam paparannya, Yudi menilai Indonesia memiliki modal sosial yang sangat besar berupa tingginya aktivitas masyarakat di ruang digital. Namun, menurutnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat ketahanan ideologi bangsa.
“Saya melihat bahwa potensi untuk berubah dan melakukan lompatan besar itu sebenarnya sangat terbuka lebar di hadapan kita, namun yang sampai saat ini belum ada adalah inisiatif kuat untuk menyatukan energi tersebut secara terarah,” ujarnya.
Ia menilai pengaruh warganet Indonesia di berbagai platform media sosial merupakan kekuatan yang dapat diarahkan menjadi gerakan positif. Selama ini, kata dia, energi kolektif masyarakat digital sering kali terserap pada perdebatan yang bersifat polarisatif atau isu-isu yang kurang produktif.
Padahal, menurut Yudi, apabila diarahkan secara tepat, ruang digital dapat menjadi wahana efektif untuk menyebarluaskan pesan-pesan toleransi, moderasi beragama, persatuan, serta nilai-nilai Pancasila sebagai benteng menghadapi penyebaran ideologi ekstrem.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap zaman memiliki medium perjuangannya masing-masing. Jika pada masa perjuangan kemerdekaan para pendiri bangsa memanfaatkan surat kabar sebagai sarana menyebarkan gagasan kebangsaan, maka saat ini peran tersebut telah bergeser ke platform digital.
“Kalau dulu para pendiri bangsa menggunakan surat kabar sebagai alat perjuangan dan penyebaran gagasan kebangsaan, sekarang zamannya sudah berubah. Teknologi digital yang ada dalam genggaman kita harus dimanfaatkan untuk memperkuat agenda kebangsaan sekaligus mempersempit ruang gerak kelompok-kelompok radikal,” katanya.
Selain menyoroti pentingnya penguatan narasi di ruang siber, Yudi juga menekankan perlunya pembangunan sumber daya manusia yang inklusif di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Papua. Menurutnya, pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan afirmasi pembangunan merupakan bagian penting dalam memperkuat persatuan nasional.
Ia berpandangan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan dan kesempatan yang setara akan memperkokoh rasa kebangsaan sekaligus mempersempit ruang berkembangnya berbagai narasi yang berpotensi memecah belah bangsa.
Diskusi yang diselenggarakan Vardhana Nawasena Network tersebut juga membahas berbagai isu strategis lainnya, mulai dari penguatan ketahanan pangan nasional hingga penyiapan generasi pemimpin di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Melalui forum tersebut, VNN menyatakan komitmennya untuk mendorong lahirnya berbagai gagasan, riset kebijakan, serta konten edukatif yang dapat memperkuat literasi publik, memperluas penyebaran nilai-nilai kebangsaan, dan menghadirkan kontranarasi terhadap penyebaran intoleransi, radikalisme, ekstremisme, serta terorisme di ruang digital.
































































