JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan kualitas gizi tetap menjadi fokus utama dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kembali berjalan pada hari pertama masuk sekolah setelah libur semester.
Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Kepala BGN, Trenggono, saat meninjau pelaksanaan MBG di sejumlah sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jakarta Pusat, Senin. Kunjungan dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan pelaksanaan program berjalan sesuai standar, mulai dari penyusunan menu, keamanan pangan, hingga distribusi makanan kepada peserta didik.
Beberapa lokasi yang dikunjungi antara lain SDN Cikini 01, SDN Cikini 02, SMA Muhammadiyah 1, SPPG Jakarta Pusat Menteng Pegangsaan 1, dan SPPG Jakarta Pusat Johar Baru Kampung Rawa 2.
Dalam peninjauan tersebut, Trenggono menekankan pentingnya penyajian menu bergizi seimbang dengan kandungan protein hewani sebagai salah satu komponen utama untuk mendukung tumbuh kembang anak usia sekolah.
“Kami ingin memastikan setiap anak memperoleh asupan gizi yang lengkap dan seimbang. Karena itu, menu berbahan protein hewani, termasuk daging, perlu diupayakan tersedia secara berkesinambungan dengan tetap memperhatikan standar keamanan pangan, kecukupan gizi, dan ketersediaan bahan baku di masing-masing daerah,” ujarnya.
Selain kualitas menu, BGN juga meminta seluruh pengelola SPPG dan mitra penyedia makanan memperkuat pengawasan pelaksanaan program di lapangan.
Menurut Trenggono, kepala SPPG perlu aktif melakukan pendampingan saat kegiatan monitoring, membangun komunikasi secara rutin dengan sekolah, serta menghimpun masukan dari kepala sekolah, guru, peserta didik, dan penerima manfaat lainnya sebagai bahan evaluasi penyempurnaan menu maupun layanan.
“Kepala SPPG dan mitra harus aktif melakukan pendampingan saat kunjungan monitoring, rutin membangun komunikasi dengan sekolah, serta menghimpun masukan dari kepala sekolah, guru, peserta didik, dan penerima manfaat lainnya sebagai bahan evaluasi penyusunan menu,” katanya.
BGN menegaskan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG akan terus dilakukan secara berkala di berbagai daerah guna memastikan program berjalan sesuai standar dan memberikan manfaat optimal bagi peningkatan status gizi peserta didik.
Di sisi lain, Trenggono menilai MBG tidak hanya memiliki tujuan meningkatkan kualitas gizi anak, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak ekonomi daerah melalui penguatan rantai pasok pangan lokal.
Karena itu, BGN mendorong agar penyediaan bahan baku lebih mengutamakan hasil pertanian lokal, buah-buahan daerah, serta melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi pelaksanaan program.
“Program MBG harus menjadi penggerak ekosistem pangan di daerah. Kita perlu memanfaatkan buah-buahan lokal yang berkualitas, mengurangi ketergantungan pada bahan baku produksi pabrikan, serta mengutamakan pasokan dari UMKM. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh para penerima manfaat, tetapi juga oleh petani, pelaku usaha, dan masyarakat di sekitar,” tutur Trenggono.
BGN berharap penguatan kualitas menu, pengawasan pelaksanaan, dan optimalisasi pemanfaatan pangan lokal dapat membuat Program MBG tidak hanya meningkatkan kesehatan anak-anak Indonesia, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
































































