CILACAP – Penutupan rangkaian peringatan Bulan Sura 2026 di Kabupaten Cilacap tidak hanya menjadi penanda berakhirnya tradisi tahunan masyarakat Jawa. Lebih dari itu, momentum tersebut dimanfaatkan sebagai ruang memperkuat persaudaraan lintas agama, budaya, dan kepercayaan di tengah pentingnya menjaga kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Prosesi Wilujengan Tanggap Warsa Tutup Bulan Sura yang berlangsung di Pendopo Wijayakusuma Cakti pada Senin (20/7/2026) mempertemukan unsur pemerintah daerah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), tokoh agama, hingga perwakilan berbagai paguyuban penghayat kepercayaan. Kegiatan ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Besar Penghayat Kepercayaan sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 135 Tahun 2026.
Dalam sambutan Plt Bupati Cilacap yang dibacakan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cilacap, Paiman, pemerintah menegaskan bahwa tradisi budaya memiliki peran penting dalam memperkuat persatuan masyarakat.
“Peringatan Bulan Sura bukan sekadar pergantian kalender Jawa ataupun seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum untuk mempererat hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Melalui berbagai tradisi yang dilaksanakan, kita ingin terus merawat kebersamaan serta memperkuat semangat hidup berdampingan di tengah keberagaman,” ujar Paiman.
Ia menilai nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur dapat menjadi modal sosial dalam menjaga keharmonisan masyarakat sekaligus memperkuat semangat gotong royong dan dialog di tengah berbagai perbedaan.
Rangkaian prosesi berlangsung khidmat. Acara diawali dengan penampilan Tari Beksan Rumeksa, dilanjutkan pelepasan dan pemasangan kembali selubung saka guru serta gongso sebagai bagian dari tradisi penutupan Bulan Sura. Seluruh peserta kemudian bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengucapkan Pancasila sebagai simbol komitmen menjaga persatuan bangsa.
Ketua MLKI Kabupaten Cilacap, Basuki Raharjo, mengapresiasi dukungan pemerintah daerah yang selama ini memberi ruang bagi pelestarian budaya sekaligus memperkuat kehidupan masyarakat yang inklusif.
Menurutnya, pelestarian tradisi tidak hanya bertujuan menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat nilai persaudaraan, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman yang telah lama menjadi karakter masyarakat Indonesia.
“Saya mengapresiasi dukungan pemerintah daerah yang terus merangkul para penghayat kepercayaan. Merawat tradisi merupakan bagian dari menjaga nilai-nilai kebangsaan agar terus hidup di tengah masyarakat,” kata Basuki.
Senada dengan itu, tokoh Gereja Katolik, Romo Carolus, menilai kehidupan masyarakat Cilacap menunjukkan bahwa keberagaman dapat tumbuh berdampingan dengan harmonis apabila dibangun melalui saling menghormati dan dialog.
Ia mengatakan nilai-nilai kemanusiaan yang hidup dalam budaya lokal menjadi modal penting untuk memperkuat karakter generasi muda sehingga mampu menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan.
Prosesi kemudian ditutup dengan doa bersama dan tradisi makan tumpeng sebagai simbol rasa syukur sekaligus harapan agar masyarakat Cilacap tetap hidup rukun, damai, dan terus menjaga semangat kebersamaan dalam keberagaman.
































































