Jakarta — Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap temuan penting di balik aksi pelemparan bom molotov oleh seorang siswa di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, Selasa (3/2/2026). Dari hasil pendalaman, aparat menemukan deretan nama pelaku kekerasan massal internasional yang tertulis di tas sekolah milik terduga pelaku.
Temuan tersebut menunjukkan pola paparan narasi kekerasan ekstrem yang serupa dengan kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara pada November 2025, di mana pelaku juga diketahui terinspirasi figur-figur kekerasan global.
“Nama-nama yang tertera merupakan pelaku penembakan massal dan kerap dijadikan referensi dalam komunitas ekstrem daring,” ujar Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana di Jakarta, Rabu.
Menurut Mayndra, beberapa nama yang ditemukan merujuk pada pelaku penembakan massal di Amerika Serikat dan Eropa, termasuk kasus-kasus yang menargetkan fasilitas publik dan institusi pendidikan. Figur-figur tersebut kerap diposisikan sebagai simbol dalam subkultur kekerasan ekstrem, terutama di ruang digital.
Selain daftar nama, penyidik juga menemukan tulisan “#ZERO DAY” serta singkatan “TCC” pada tas milik siswa tersebut. Mayndra menjelaskan, istilah “Zero Day” sering digunakan dalam subkultur kekerasan ekstrem untuk menandai hari pelaksanaan serangan.
“Istilah ini juga terkait dengan narasi film Zero Day yang mengangkat tema penembakan di sekolah,” katanya.
Sementara itu, TCC merujuk pada True Crime Community, komunitas daring yang kerap mengekspos konten kejahatan ekstrem dan dalam sejumlah kasus dinilai berpotensi memperkuat glorifikasi kekerasan.
Dari hasil asesmen awal, Densus 88 menilai pelaku merupakan anak yang mengalami perundungan serta menyimpan dorongan balas dendam terhadap lingkungan sekolahnya. Faktor persoalan keluarga juga diduga turut memengaruhi kondisi psikologis anak tersebut.
“Akumulasi tekanan itu kemudian bermuara pada tindakan kekerasan,” ujar Mayndra.
Pola serupa, lanjut Densus 88, sebelumnya juga ditemukan dalam kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara. Dalam peristiwa tersebut, anak yang berkonflik dengan hukum menuliskan nama-nama tokoh kekerasan global pada senjata mainan yang ditemukan di lokasi kejadian.
Meski demikian, Densus 88 menegaskan bahwa kasus SMAN 72 Jakarta Utara dipastikan bukan aksi terorisme. Namun, kemunculan figur-figur kekerasan global sebagai referensi menunjukkan adanya paparan ideologi dan narasi ekstrem di kalangan anak dan remaja.
Temuan ini, menurut Densus 88, menjadi peringatan penting bagi orang tua, sekolah, dan pemangku kepentingan untuk memperkuat deteksi dini, literasi digital, serta pendampingan psikososial bagi anak, khususnya yang mengalami perundungan dan keterasingan sosial.
































































