Karawang — Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa toleransi antarumat beragama bukan sekadar jargon, melainkan nilai yang memiliki akar kuat dalam sejarah Islam. Hal itu ia sampaikan saat mengunjungi sekaligus menyerahkan bantuan rehabilitasi kepada Vihara dan Kelenteng Sian Djin Ku Poh, Karawang, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026).
Di hadapan pengurus vihara dan umat Buddha, Nasaruddin mengisahkan keteladanan Nabi Muhammad SAW di Madinah yang menunjukkan kepedulian terhadap pemeluk agama lain, termasuk dalam urusan rumah ibadah. Menurutnya, sikap tersebut menjadi fondasi penting bagi kehidupan kebangsaan Indonesia yang majemuk.
“Rasulullah memberi perhatian besar kepada umat agama lain. Nilai inilah yang seharusnya terus kita rawat bersama sebagai bangsa,” ujar Nasaruddin.
Dalam kunjungan tersebut, Menag menyerahkan bantuan rehabilitasi senilai Rp50 juta kepada Yayasan Sian Djin Ku Poh. Bantuan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan seluruh umat beragama memiliki tempat ibadah yang layak, aman, dan nyaman.
Nasaruddin menekankan bahwa negara memiliki kewajiban hadir sebagai pelayan seluruh warga, tanpa membedakan latar belakang keyakinan. Karena itu, ia mengingatkan agar persoalan administratif tidak menjadi penghalang bagi umat yang ingin beribadah.
“Jika ada umat yang ingin beribadah tetapi terkendala tempat, tugas kita adalah mempermudah, bukan mempersulit. Jangan sampai niat mendekatkan diri kepada Tuhan terhambat oleh prosedur,” katanya.
Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga menilai rumah ibadah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter sosial masyarakat. Menurutnya, kedekatan seseorang dengan aktivitas ibadah berbanding lurus dengan kepedulian dan kualitas moral dalam kehidupan sehari-hari.
“Membantu orang beribadah berarti membantu membangun pribadi yang lebih baik. Karena itu kita patut bersyukur vihara ini hidup dan memiliki jemaah,” ujarnya.
Kepada umat Buddha di Karawang, Nasaruddin mengajak agar Vihara dan Kelenteng Sian Djin Ku Poh terus dihidupkan dengan kegiatan spiritual yang berkelanjutan.
“Bukan hanya bangunannya yang perlu dirawat, tetapi juga aktivitas ibadahnya. Jika tempatnya sudah nyaman, mari kita maksimalkan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan,” tutupnya.

































































