Bali – Momentum beririsan antara Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah dengan Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948 di Bali direspons dengan seruan menjaga toleransi dan ketertiban bersama. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali, Husnul Fahmi, mengimbau umat Islam untuk melaksanakan malam takbiran dengan cara yang tetap menghormati pelaksanaan Nyepi.
Seruan tersebut disampaikan setelah serangkaian pertemuan antara PWM Bali dan Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Bali guna memastikan kedua perayaan keagamaan dapat berjalan harmonis.
“Umat Islam tetap diperbolehkan melaksanakan takbir, namun dengan beberapa ketentuan seperti berjalan kaki menuju masjid atau mushola terdekat, tidak menggunakan pengeras suara, serta tidak menyalakan penerangan yang terlalu mencolok,” ujar Fahmi, Sabtu (14/3).
Ketentuan tersebut juga tercantum dalam surat edaran FKUB yang mengatur pelaksanaan takbiran ketika bertepatan dengan Nyepi. Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa umat Islam dapat melaksanakan takbiran di masjid atau mushola mulai pukul 18.00 hingga 21.00 WITA.
Selain itu, kegiatan takbiran tidak diperkenankan menggunakan pengeras suara, menyalakan petasan, mercon, maupun bunyi-bunyian lainnya. Penerangan juga diminta digunakan secara terbatas agar tetap menghormati suasana hening yang menjadi bagian dari perayaan Nyepi.
Pengamanan dan ketertiban kegiatan takbiran menjadi tanggung jawab pengurus masjid atau mushola setempat dengan tetap berkoordinasi dengan aparat keamanan.
Sejumlah unsur masyarakat turut dilibatkan dalam menjaga situasi kondusif, seperti prajuru desa adat, pecalang, Linmas, serta aparat desa dan kelurahan. Seluruh pihak diharapkan bekerja sama untuk memastikan pelaksanaan Nyepi maupun kegiatan takbiran berlangsung tertib.
Selain pengaturan takbiran, pelaksanaan Salat Idulfitri juga akan mengalami sedikit penyesuaian waktu. Jika biasanya dimulai sekitar pukul 06.00 WITA, pada tahun ini Salat Id direncanakan dimulai pukul 06.30 WITA.
PWM Bali juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah untuk penyelenggaraan Salat Idulfitri. Salah satunya dengan menyediakan fasilitas pelaksanaan salat di lapangan depan Kantor Gubernur Bali.
Fahmi menjelaskan bahwa persiapan pelaksanaan salat akan dilakukan satu hari sebelum Nyepi, sehingga pada hari pelaksanaan umat Islam dapat langsung menuju lokasi setelah batas waktu pelaksanaan Nyepi berakhir.
Menurutnya, situasi ini justru menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan antarumat beragama di Bali.
“Kami mengimbau kepada warga Muhammadiyah khususnya dan umat Islam secara umum agar terus menjaga kerukunan. Tradisi toleransi ini sudah terjalin sejak lama dan harus terus kita pertahankan serta tingkatkan,” ujarnya.
Ia berharap beririsan antara perayaan Nyepi dan Idulfitri tahun ini dapat menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat Bali menjaga keharmonisan dan saling menghormati dalam kehidupan beragama.
































































