Lamongan – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya membuka peluang bagi petani dan pelaku usaha lokal, tetapi juga menjadi ruang kontribusi bagi warga binaan pemasyarakatan. Di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, hasil budidaya selada hidroponik yang dikelola warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Lamongan kini menjadi bagian dari rantai pasok bahan pangan untuk dapur MBG.
Setiap hari, sekitar 15 kilogram selada hidroponik dipanen dari Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Lamongan. Hasil panen tersebut kemudian disalurkan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Keduyung, Kecamatan Laren, untuk mendukung penyediaan menu bergizi bagi para penerima manfaat program MBG.
Kepala Lapas Kelas IIB Lamongan, Heri Sulistyo, mengatakan keterlibatan warga binaan dalam budidaya hidroponik menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian yang terus dikembangkan di lingkungan pemasyarakatan.
“Warga binaan tidak hanya mendapatkan keterampilan, tetapi juga mampu menghasilkan produk pertanian yang memiliki kualitas baik dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Heri, kegiatan tersebut memberikan pengalaman nyata kepada warga binaan dalam mengelola usaha pertanian modern yang memiliki nilai ekonomi. Selain menjadi sarana pembelajaran, program itu juga diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat setelah menyelesaikan masa pembinaan.
Lebih dari sekadar aktivitas pembinaan, penyaluran hasil panen ke dapur MBG menunjukkan bahwa warga binaan juga dapat berkontribusi dalam program pembangunan nasional. Produk yang dihasilkan tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga mendukung upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Heri menjelaskan bahwa program hidroponik di Lapas Lamongan sejalan dengan kebijakan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang mendorong penguatan ketahanan pangan sekaligus peningkatan keterampilan kerja warga binaan melalui kegiatan produktif.
Melalui sinergi tersebut, hasil pembinaan di dalam lapas tidak berhenti pada proses pendidikan dan pelatihan semata. Produk yang dihasilkan mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, sekaligus memperlihatkan bahwa proses pemasyarakatan dapat menjadi bagian dari solusi bagi kebutuhan sosial yang lebih luas.
Kehadiran selada hidroponik dari Lapas Lamongan dalam rantai pasok MBG menjadi contoh bagaimana program pemerintah dapat melibatkan berbagai elemen, termasuk lembaga pemasyarakatan, dalam membangun ekosistem pangan yang produktif, berkelanjutan, dan memberi manfaat bagi banyak pihak. (Ant)
































































