JAKARTA – Penolakan otoritas Amerika Serikat terhadap wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, yang dijadwalkan bertugas pada Piala Dunia 2026 memicu perhatian dunia sepak bola. FIFA menyayangkan insiden tersebut, namun menegaskan keputusan keimigrasian merupakan kewenangan pemerintah setempat yang tidak dapat diintervensi.
Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan simpatinya kepada Artan dalam konferensi pers pada Rabu (11/6/2026). Meski demikian, ia meminta publik tidak terburu-buru meluapkan kemarahan atas kontroversi tersebut.
“Sangat disayangkan apa yang terjadi pada Omar. Tapi kita tidak bisa mengendalikan segalanya. Kita berusaha, kita berdiskusi, dan kita akan berbicara,” kata Infantino.
Menurutnya, pendekatan dialog menjadi cara yang lebih efektif dibandingkan reaksi emosional dalam mencari solusi atas persoalan yang muncul menjelang Piala Dunia 2026.
“Mungkin terkadang ada baiknya juga untuk bersantai dan rileks. Kita mengerjakan semuanya dan mencoba menyelesaikan semuanya. Terkadang, berteriak dan marah-marah justru memberikan efek sebaliknya, yaitu menghambat pencarian solusi,” ujarnya.
Kontroversi bermula ketika Omar Abdulkadir Artan tiba di Miami untuk menjalankan tugas sebagai salah satu perangkat pertandingan Piala Dunia. Meski mengaku telah membawa dokumen perjalanan yang lengkap, wasit yang dinobatkan sebagai Wasit Terbaik Afrika 2025 itu justru ditahan dan menjalani pemeriksaan selama lebih dari 11 jam.
Setelah proses pemeriksaan, Artan tidak diizinkan memasuki wilayah Amerika Serikat dan dipulangkan kembali ke Istanbul, kota keberangkatannya.
Belakangan, media The Athletic mengutip keterangan seorang pejabat senior pemerintahan Amerika Serikat yang menyebut penolakan tersebut berkaitan dengan hasil pemeriksaan keamanan.
Menurut pejabat tersebut, otoritas Customs and Border Protection (CBP) menemukan informasi yang dinilai merugikan, termasuk dugaan keterkaitan dengan seseorang yang dicurigai sebagai anggota organisasi teroris.
“Setelah pemeriksaan lebih lanjut oleh CBP, ditemukan informasi yang sifatnya merugikan, termasuk keterkaitan dengan tersangka anggota organisasi teror, yang membuat pelancong tersebut tidak memenuhi syarat untuk masuk ke Amerika Serikat berdasarkan Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan (INA),” demikian pernyataan pejabat tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan kebijakan tersebut merupakan bagian dari langkah menjaga keamanan nasional dan mencegah potensi ancaman masuk ke wilayah negaranya.
Meski demikian, hingga kini belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai bentuk maupun rincian dugaan keterkaitan yang menjadi dasar penolakan terhadap Artan.
Kasus ini menjadi salah satu isu yang mewarnai persiapan Piala Dunia 2026. Di tengah sorotan tersebut, FIFA memilih mengedepankan komunikasi dengan otoritas terkait sambil berharap persoalan serupa tidak mengganggu kelancaran penyelenggaraan turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
































































