MAKASSAR – Imam masjid memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat yang damai, moderat, dan berkeadaban. Pasalnya,imam tidak hanya memimpin ibadah, tetapi juga menjadi penjaga nilai-nilai keislaman yang mampu memperkuat persatuan di tengah keberagaman.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar saat menghadiri konsolidasi Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) di Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar, Minggu (14/6/2026). Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian penguatan jaringan imam masjid yang sebelumnya telah dilaksanakan di sejumlah wilayah di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa Timur.
Dalam kesempatan itu, Nasaruddin mengapresiasi IPIM Sulawesi Selatan yang dinilai berhasil membangun soliditas organisasi hingga tingkat kelurahan dan desa. Ia berharap forum tersebut semakin memperkuat kapasitas para imam dalam membimbing umat sekaligus menjaga kehidupan beragama yang harmonis.
“Hari ini kita mengumpulkan seluruh pengurus IPIM sampai tingkat kelurahan dan desa. Kami berterima kasih kepada pengurus wilayah Sulawesi Selatan yang telah mempersiapkan kegiatan ini dengan baik,” ujarnya.
Menurut Menag, posisi imam masjid sangat mulia karena tidak hanya bertugas memimpin salat berjamaah, tetapi juga menjadi pembimbing spiritual yang memberikan teladan bagi masyarakat. Di sisi lain, masjid dipandang sebagai ruang yang menyatukan manusia dalam penghambaan kepada Tuhan sekaligus memperkuat ikatan sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.
“Masjid adalah meeting point pertemuan manusia dengan Tuhannya,” katanya.
Nasaruddin juga menaruh harapan besar agar konsolidasi imam masjid terus dilakukan di berbagai daerah. Ia menilai penguatan peran imam menjadi salah satu langkah penting untuk menampilkan Indonesia sebagai pusat peradaban Islam modern yang mengedepankan nilai-nilai toleransi, kemanusiaan, dan perdamaian.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal sosial dan budaya yang kuat untuk menghadirkan wajah Islam yang ramah, inklusif, dan mampu menjadi rujukan dunia Islam di masa depan.
“Indonesia akan tampil sebagai pusat peradaban dunia Islam modern. Kita ingin menunjukkan bagaimana Islam mengajarkan cinta, kedamaian, dan kemanusiaan,” tegasnya.
Lebih jauh, Menag menilai Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan pemahaman Islam yang mencerahkan sekaligus meluruskan berbagai stigma negatif yang masih melekat terhadap Islam di sejumlah belahan dunia.
Ia menegaskan bahwa ajaran Islam sejatinya membawa rahmat bagi seluruh alam, sehingga harus dipahami sebagai agama yang mengedepankan kasih sayang, bukan kekerasan.
“Kita ingin tampil sebagai pembawa pencerahan. Indonesia hadir untuk memperlihatkan wajah Islam yang damai, moderat, dan membawa rahmat bagi seluruh alam,” ujarnya.
Kegiatan yang dihadiri para imam masjid, tokoh agama, akademisi, dan berbagai unsur masyarakat tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat sekaligus memperkokoh moderasi beragama dan harmoni sosial di Indonesia.
Dengan penguatan peran imam di berbagai daerah, pemerintah berharap nilai-nilai Islam yang menyejukkan dapat semakin mengakar di tengah masyarakat dan menjadi fondasi dalam menjaga persatuan bangsa di tengah dinamika kehidupan yang terus berkembang.































































