PALU – Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Tahun 2026 tingkat Provinsi Sulawesi Tengah tidak hanya menjadi ajang kompetisi akademik, tetapi juga wahana pembentukan karakter kebangsaan bagi generasi muda. Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan era digital, pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dinilai semakin penting untuk ditanamkan kepada pelajar.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman, saat meninjau pelaksanaan LCC Empat Pilar MPR RI di Birobuli Utara, Palu Selatan, Senin (22/6/2026).
Abcandra mengapresiasi tingginya antusiasme peserta yang berasal dari berbagai kabupaten di Sulawesi Tengah. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan kesempatan yang sama bagi pelajar daerah untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperluas wawasan kebangsaan.
“Saya melihat semangat yang luar biasa dari para siswa. Kegiatan seperti ini penting untuk membuka ruang belajar, meningkatkan rasa percaya diri, dan memberikan pengalaman berharga bagi generasi muda,” ujarnya.
Menurut Abcandra, LCC Empat Pilar memiliki peran strategis karena tidak hanya menguji kemampuan peserta menjawab soal, tetapi juga membangun pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menekankan bahwa generasi muda perlu mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menghafalnya untuk kepentingan perlombaan.
“Harapannya, para siswa tidak hanya memahami konsep Empat Pilar secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam sikap, perilaku, dan kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Selain meninjau jalannya perlombaan, Abcandra juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog langsung dengan para siswa dan guru pendamping mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi di daerah.
Dalam dialog tersebut, salah satu isu yang banyak mendapat perhatian adalah keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini telah berjalan di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah.
Menurut Abcandra, banyak pelajar mengaku telah merasakan manfaat langsung dari program tersebut, terutama dalam membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
“Anak-anak menyampaikan bahwa program MBG sangat membantu. Pengeluaran orang tua untuk kebutuhan makan dapat ditekan sehingga anggaran keluarga bisa dialihkan untuk membeli buku, perlengkapan sekolah, dan kebutuhan pendidikan lainnya,” ungkapnya.
Meski demikian, para siswa juga menyampaikan harapan agar pelaksanaan program dapat semakin merata, terutama bagi wilayah-wilayah terpencil dan kawasan Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T) yang masih menghadapi berbagai keterbatasan akses.
Abcandra memastikan berbagai masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi yang akan disampaikan kepada pemerintah pusat guna meningkatkan kualitas pelaksanaan program di masa mendatang.
Sementara itu, untuk menjamin objektivitas dan transparansi perlombaan, MPR RI melibatkan akademisi dan pakar hukum tata negara dari Universitas Tadulako sebagai dewan juri.
Selain penilaian substansi materi, panitia juga melakukan pengawasan terhadap seluruh perangkat teknis perlombaan guna memastikan setiap peserta memperoleh kesempatan yang adil dan setara.
Pada akhir kompetisi, SMAN Model Terpadu Madani Palu berhasil keluar sebagai Juara I Provinsi Sulawesi Tengah dan berhak mewakili daerah tersebut pada LCC Empat Pilar tingkat nasional di Jakarta.
Sekolah tersebut meraih nilai tertinggi dalam babak final, mengungguli SMAN 6 Palu dan SMAN 1 Tolitoli yang juga tampil sebagai finalis terbaik dari hasil seleksi tingkat provinsi.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa penguatan pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan di daerah terus menunjukkan perkembangan positif.
Melalui kegiatan seperti LCC Empat Pilar, generasi muda diharapkan tidak hanya memiliki kecakapan akademik, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan, semangat persatuan, serta kepedulian terhadap berbagai program pembangunan yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.
Dengan demikian, pendidikan kebangsaan tidak berhenti di ruang kelas atau arena perlombaan, melainkan menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

































































