Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak yang melampaui tujuan awalnya sebagai upaya pemenuhan gizi masyarakat. Seiring meluasnya pelaksanaan program di berbagai daerah, MBG juga dinilai menjadi pengungkit ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan aktivitas UMKM, hingga terbukanya pasar baru bagi petani, peternak, dan nelayan.
Pemerintah menargetkan lebih dari 82 juta masyarakat menjadi penerima manfaat MBG pada akhir 2026. Untuk mencapai target tersebut, pembangunan ekosistem pangan yang melibatkan berbagai pelaku usaha lokal terus diperkuat agar manfaat program tidak hanya dirasakan penerima makanan bergizi, tetapi juga masyarakat yang menjadi bagian dari rantai pasoknya.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar mengatakan MBG dirancang sebagai program yang mampu menciptakan nilai ekonomi baru di daerah.
Menurut dia, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang tersalurkan, tetapi juga dari tumbuhnya usaha-usaha baru, meningkatnya produktivitas UMKM, serta berkembangnya produksi pangan lokal.
“Program MBG harus terus disempurnakan agar mampu membangun rantai pasok yang melahirkan pengusaha baru, UMKM yang tumbuh, serta produksi lokal yang semakin produktif. Ini merupakan kerja bersama yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak,” ujar Muhaimin.
Hal senada disampaikan Deputi Bidang Sistem Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN), Tigor Pangaribuan. Ia mengatakan keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi baru di berbagai wilayah.
Menurut Tigor, operasional SPPG tidak hanya melibatkan tenaga kerja, tetapi juga membuka ruang bagi koperasi, pelaku UMKM, hingga produsen pangan lokal untuk menjadi bagian dari ekosistem MBG.
“Program MBG berusaha menjangkau kontribusi sebesar-besarnya dari masyarakat. Kehadiran SPPG mendorong penyerapan tenaga kerja, meningkatkan aktivitas UMKM, koperasi, serta membuka peluang bagi petani, peternak, dan nelayan lokal untuk menjadi bagian dari rantai pasok pangan nasional,” katanya.
BGN mencatat pelaksanaan MBG sejauh ini telah berkontribusi terhadap penyerapan sekitar 1,28 juta tenaga kerja di berbagai daerah. Lapangan pekerjaan tersebut tercipta dari aktivitas operasional SPPG maupun sektor pendukung yang memasok kebutuhan pangan dan logistik.
Bagi pemerintah, capaian tersebut memperlihatkan bahwa MBG tidak hanya menjadi instrumen peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga berperan sebagai motor penggerak ekonomi berbasis komunitas.
“Program MBG bukan sekadar penyediaan makanan bergizi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi rakyat dan wujud nyata gotong royong nasional dalam mempersiapkan Generasi Emas Indonesia,” ujar Tigor.
Ke depan, pemerintah menilai keberhasilan MBG akan semakin bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Keterlibatan pemerintah daerah, koperasi, UMKM, dunia usaha, serta masyarakat dinilai menjadi kunci agar manfaat ekonomi program dapat dirasakan secara lebih luas dan merata, sejalan dengan upaya membangun sumber daya manusia yang sehat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
































































