KOTA JAMBI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mulai mendorong peningkatan permintaan komoditas pangan di tingkat peternak. Di Jambi, kebutuhan ayam broiler dilaporkan meningkat sejak program tersebut berjalan pada 2025, sehingga mendorong peternak menambah siklus produksi.
Pemilik peternakan ayam broiler di Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, Hartadi, mengatakan peningkatan permintaan mulai terasa sejak program MBG mulai berjalan di berbagai daerah.
“Permintaan ayam meningkat sejak adanya program MBG,” kata Hartadi, Selasa (8/7/2026).
Hartadi mengelola peternakan dengan populasi sekitar 12.000 ekor ayam broiler. Menurutnya, peningkatan permintaan tercermin dari bertambahnya frekuensi masuk day old chick (DOC) atau anak ayam umur sehari yang dipelihara setiap tahun.
Jika sebelumnya peternakan hanya melakukan pengisian kandang sekitar empat hingga lima kali dalam setahun, kini siklus produksi meningkat menjadi enam hingga tujuh kali.
“Peningkatan permintaan terlihat dari frekuensi masuknya anak ayam umur sehari (DOC) yang semula hanya empat hingga lima kali dalam setahun, kini meningkat menjadi enam hingga tujuh kali,” ujarnya.
Sistem Kemitraan Masih Jadi Andalan
Hartadi menjelaskan sebagian besar peternak ayam broiler di Jambi masih menjalankan usaha melalui pola kemitraan dengan perusahaan peternakan. Dalam sistem tersebut, perusahaan menyediakan bibit ayam, pakan, obat-obatan, sekaligus membantu pemasaran hasil panen.
Menurutnya, pola kemitraan memberikan kepastian terhadap biaya produksi maupun harga jual sehingga lebih aman bagi peternak dibandingkan harus menghadapi fluktuasi pasar secara mandiri.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada kerja sama langsung antara peternak dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi penyedia makanan dalam program MBG.
Hartadi berharap pemerintah dapat membuka ruang bagi peternak skala kecil agar dapat menjadi pemasok langsung kebutuhan daging ayam untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.
Harga Pakan Masih Jadi Tantangan
Selain memperluas akses pasar, Hartadi juga berharap pemerintah dapat membantu menjaga stabilitas harga pakan ternak yang selama ini menjadi komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan ayam broiler.
Ia menyebut biaya pakan menyumbang sekitar 70 hingga 80 persen dari total biaya produksi. Karena itu, kestabilan harga pakan dan harga jual ayam menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan usaha peternak.
“Harga ayam saat ini masih relatif normal, meski permintaan pada bulan ini sedikit menurun akibat libur sekolah dan bertepatan dengan bulan Muharam yang menyebabkan aktivitas hajatan masyarakat berkurang,” katanya.
Menurut Hartadi, apabila rantai pasok antara peternak lokal dan penyelenggara MBG dapat dibangun secara lebih langsung, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh penerima makanan bergizi, tetapi juga akan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi pelaku usaha peternakan serta memperkuat ketahanan pangan di daerah. (Ant)
































































