Jakarta – Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berhasil memulangkan 1.500 benda budaya Indonesia yang tersimpan di Museum Nusantara Delft, Belanda. Benda-benda budaya tersebut telah tiba di Museum Nasional sejak, Minggu, 23 Desember 2019 lalu.
Direktur Jenderal Kebudayaan RI, Hilmar Farid mengatakan, pembicaraan mengenai pengembalian atau repatriasi benda-benda budaya milik Indonesia yang di Belanda sudah direncanakan sejak 2015. Namun, karena repatriasi ini merupakan masalah kompleks yang melibatkan berbagai faktor seperti perizinan, emosional, etika, hukum dan politik, maka repatriasi ini memakan waktu yang cukup lama dengan proses diplomasi yang cukup alot.
“Ini pertama kali dalam sejarah Indonesia pengembalian benda budaya atau artefak Indonesia yang dibawa dengan cara tidak pantas, atau yang disebut dengan Koloniale Roofkunst (seni yang dicuri oleh negeri kolonial). Harapannya, usaha ini bisa membuka jalan dalam upaya pengembalian koleksi-koleksi penting milik Indonesia yang ada di museum negara Eropa lain, khususnya Belanda,” ungkapnya saat taklimat media di Museum Nasional, Jakarta Pusat, dikutip Beritasatu.com, Jumat (3/10.
Dari belasan ribu benda budaya yang tersimpan di Museum Nusantara, Indonesia juga membentuk tim khusus untuk melakukan kajian provenance benda-benda yang ditawarkan. Selain itu Dirjen juga mengajukan semacam persyaratan bahwa pihak Indonesia diberi keleluasaan untuk memilih benda budaya yang akan dikembalikan serta, diberikan akses ke benda-benda bersejarah tersebut agar kajian dapat dilakukan secara komprehesif.
“Sebelumnya pada Mei 2019 saat melakukan kunjungan kerja ke Belanda, kita negosiasi untuk memilih koleksi barang yang memiliki kepentingan buat kita. Kita mencari barang mana yang akan menambah kualitas di Museum Nasional,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pengkajian dan Pengumpulan Museum Nasional, Nusi Lisabilla Estudiantin mengatakan, mulai dari Kamis (2/1/2020), 10 obsever dari Museum Nasional tengah membuka peti barang kemasan dan identifikasi keadaan benda budaya tersebut. Pasalnya, Nusi mengatakan benda budaya dan sejarah yang diterima ini tidak memiliki informasi yang jelas asal-usulnya.
“Salah satu contoh saja, tadi yang topi sudah kita buka asalnya tidak ada di data yang kita peroleh. Kalau kita lihat ciri-cirinya itu dari Sulawesi jadi kita mengejar itu ciri-cirinya apa misal dari cara menganyamnya. Itu khas Sulawesi tapi didata mereka tidak ada asalnya. Jadi itu yang akan kita dalami lagi informasinya,” terangnya.
Meski belum semua dari 1.500 benda tersebut diregistrasi di Museum Nasional, namun Nusi menyebut paling tidak koleksi tersebut telah dibagi ke dalam tujuh kelompok. Yaitu, koleksi prasejarah, sejarah, etnografi, arkeologi, numismatik dan heritage, geografi, dan keramik.
“Tidak menutup kemungkinan pengelompokkan benda-benda ini akan terus berkembang, mengingat masih banyak benda yang belum diidentifikasi. Kami pun berharap, setelah benda-benda ini dilengkapi informasi yang jelas, maka akan memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia sebagai sarana pembelajaran,” tuturnya.
Dirinya pun menambahkan, koleksi bersejarah ini nantinya akan ditunjukkan kepada publik melalui pameran yang akan diselenggarakan pada Juni 2020 nanti. Hal ini dilakukan karena menyangkut edukasi untuk melestarikan barang sejarah dan memperlihatkan kekayaan identitas dan jati diri bangsa Indonesia.(FER)

































































