Jakarta – Paham radikalisme terus menggerus rasa nasionalisme di tengah masyarakat. Terlebih dalam era digital saat ini, penyebaran paham radikalisme bisa dengan mudah dilakukan. Untuk itu Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) berencana menggandeng pesantren untuk menangkal penyebaran paham radikalisme itu.
Hal itu disampaikan Wakil Kepala BSSN Komjenpol Dharma Pongrekun, usai menjadi narasumber diskusi dalam rangka Festival Qur’ani se-Jawa Timur, yang digelar Pesantren Tahfidhul Qur’an Cinta Rosululloh, Jombang. Ia menyebut, faham radikalisme merupakan sistem yang akan digunakan untuk menghancurkan Bangsa Indonesia.
“Santri ini yang menjadi benteng utama penangkal radikalisme. Kalau dia radikal, pasti bukan santri. Karena mereka tidak mengetahui konsep-konsep yang tadi ada. Seperti cinta tanah air dan konsep-konsep lainnya yang ditelurkan KH Hasyim Asy’ari,” kata Dharma kepada awak media, di GOR Merdeka Jombang, dikutip Sindonews.com. Minggu (12/1/2020).
Dharma Pongrekun mengungkapkan, radikalisme merupakan sebuah industri yang sengaja diciptakan dan selalu berupaya menyasar negara yang memiliki populasi serta kekayaan alam besar. Ada dua mekanisme yang sering digunakan. Yakni menggunakan dalih agama dan ekonomi.
“Indonesia populasi yang paling banyak apa? Muslim, dia akan mainkan itu. Negara yang mayoritas bukan Muslim, dia akan guncang ekonominya. Ada Brexit, ada apa dan segala macam itu. Kalau yang Muslim dia selalu main jumlah. Perhatikan dia selalu main angka,” tutur Dharma.(FER)
































































