Kabul – Meningkatnya kekerasan dan perdebatan terkait pertukaran tawanan antara pemerintah Afghanistan dan Taliban telah menunda pembicaraan yang akan dimulai pada bulan Maret lalu antara kelompok pemberontak dan sebuah tim pemerintah.
Untuk itu, Taliban kembali menegaskan komitmen kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk menarik pasukan di Afghanistan. Juru bicara Taliban Suhail Shaheen menyatakan pernyataan tersebut saat melakukan konferensi video dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo.
“Menurut perjanjian itu, kami tidak mengizinkan siapa pun menggunakan tanah Afghanistan untuk melawan AS dan negara-negara lain,” tulis Shaheen dalam cuitannya di Twitter, sebagaimana dikutip AFP, Senin (29/6).
Shaheen mengatakan dalam pembicaraan tersebut Baradar dan Pompeo membahas kelanjutan kesepakatan perdamaian, termasuk yang terkait dengan intra-Afghanistan dan rencana pembebasan 5.000 gerilyawan yang ditahan.
“Kami berkomitmen untuk memulai pembicaraan intra-Afghanistan,” ujar Shaheen.
Pemerintah Afghanistan mengatakan pihaknya sejauh ini telah membebaskan hampir 4.000 tahanan Taliban dalam upaya memulai perundingan.
Pompeo mengakui jika Taliban telah menahan diri untuk tidak menyerang pusat kota dan pangkalan militer di bawah kesepakatan yang terjadi pada akhir Januari lalu. Shaheen mengatakan AS meminta Taliban melakukan upaya lebih untuk mengurangi kekerasan di Afghanistan.
Diskusi terkait kelanjutan kesepakatan antara Taliban dan AS dilakukan setelah muncul laporan yang menyebut Presiden Donald Trump telah menerima pengarahan intelijen terkait peran Rusia di Afghanistan.
Laporan yang diberitakan The New York Times tersebut menyebutkan bahwa Rusia menawarkan hadiah kepada militan yang terkoneksi dengan Taliban, bila mereka berhasil membunuh prajurit Amerika Serikat di Afghanistan.
Hadiah tersebut berupa insentif kepada militan untuk menargetkan prajurit Amerika Serikat, bersamaan dengan upaya Trump menarik tentara dari negara tersebut dan mengakhiri perang terpanjang Amerika. Keinginan Trump itu sendiri sama seperti salah satu tuntutan utama para militan di Afghanistan.(FER)
































































