Bogor – Para korban dari aksi terorisme (penyintas) dan para mantan kombatan atau mantan narapidana kasus terorisme (mitra deradikalisasi) diharapkan untuk dapat menjadi agen-agen perdamaian di dalam lingkungan masyarakat. Karena hal itu merupakan bentuk bagian dari kontra propaganda kepada masyarakat dari adanya propaganda yang dilakukan oleh para jaringan terorisme yang ada selama ini.
Hal tersebut dikatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, MH, pada acara Silaturahmi Kebangsaan antara Penyintas (korban akis terorisme) dan mitra deradikalisai (mantan napi teroris) yang berlangsung di Cisarua, Kabupaten Bogor, Selasa (30/3/2021) malam. Yang mana acara tersebut mengabil tema ‘Rekonsiliasi Menuju Indonesia Damai’.
“Dengan silaturahmi yang dilaksanakan ini akan menjadi bagian dari kekuatan bagi kita semuanya untuk bertindak sebagai pihak yang melakukan kontra narasi di dalam masyarakat, dalam keluarga dan tentunya di dalam lingkungan masing-masing,” ujar Boy.
Ia menjelaskan, pertemuan antara penyimtas dengan mitra deradikalisasi ini dimaksudkan untuk menimbulkan dan menanamkan rasa persaudaraan antara para korban kejahatan terorisme serta para pelaku aksi terorisme di masa lalu.
“Hari ini kita coba pertemukan, karena silaturahmi ini sebagai upaya untuk memupus rasa dendam, dan sakit hati. Yang ada adalah membangun semangat persaudaraan, meyakinkan kepada semua pihak bahwa kejahatan terorisme adalah kejahatan yang extra ordinary, melawan nilai-nilai kemanusiaan yang perlu kita perangi bersama dan perlu kita tingkatkan kewaspadaan bersama,” kata alumni Akpol tahun 1988 ini.
Selain itu Boy menjelaskan, setiap silaturahmi ini juga senantiasa untuk memperhatikan aspek kesejahteraan yang tentu harus kita pikirkan terus baik terhadap penyintas maupun kepada mitra deradikalisasi.
“Karena kesejahteraan ini merupakan ending dari program yang sudah diselenggarakan BNPT, yang mana hal ini adalah bagian dari amanat Undang-undang No/5 tahun 2018 tentang Penanggulangan Terorisme,” kata mantan Kapolda Papua ini.
Tak hanya itu, ia juga ingin agar para penyintas dan mitra deradikalisai ini pada akhirnya nanti mereka semua juga memiliki kemandirian untuk bisa memenuhi kesejahteraanya. Namun demikian menurutnya mungkin selama ini ada proses ataupun kendala yang agak sulit dalam melakukan reintegrasi dengan masyarakat.
“Mungkin bagi para penyintas karena cacat yang dialaminya. Demikian juga bagi mitra daradikalisasi yang mungkin catatan dia sebagai eks napiter menjadi bagian kendala,” ujarnya.
Dalam kesempatan Kepala BNPT juga sempat menynggung tentang korban atas kejadian bom bunuh diri yang terjadi di gerbang depan Gereja Katedral, Makassar pada Minggu (28/3/2021) lalu. Kejadian membuat tidak kurang dari 20 orang mengalami luka-luka. Sementara dua orang pasangan ‘pengantin’ pelaku bom bunuh diri yakni Lukman dan Dewi tewas di lokasi kejadian.
“Tentunya 20 orang korban ini nantinya juga menjadi perhatian kita bersama LPSK (Lembaga Pelindungan Saksi dan Korban). Demikian juga dengan mitra deradikalisasi akan bertambah seiring banyaknya pelaku terduga teroris yang telah ditangkap aparat kepolisian pasca kejadian itu,,” ucap mantan Kepala Biro Penerangan Mayarakat Divisi Humas Polri ini .

































































