Jakarta – Seluruh warga negara Indonesia harus turut serta untuk berperan aktif dalam mencegah aksi terorisme agar tidak terjadi lagi di Indonesia. Tak hanya itu warga Indonesia juga harus bisa mencegah masuknya paham radikal terorisme di lingkungan masyarakat sekitarnya.
Hal tersebut dikatakan Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis saat menjadi narasumber pada acara Forum Diskusi Publik dengan tema “Mitigasi dan Diseminasi Penanggulangan Terorisme di Indonesia” di Hotel The Sultan, Jakarta, Senin (12/4/2021).
Acara diskusi publik yang diselengagrakan berkat kerjasama DPR RI dan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika ini diikuti ratusan pelajar, mahasiswa dan generasi muda yang ada di wilayah Jawa Barat melalui saluran daring atau webinar
“Kita seluruh warga negara Indonesia harus berperan aktif untuk mencegah masuknya paham tersebut. Tentunya dimulai dari tingkat keluarga, saya sampaikan tadi kondisi negara Indonesia seperti ini adalah cerminan keluarga-keluarga yang ada di Indonesia ini,” ujar Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis.
Lebih lanjut dikatakan Deputi I BNPT, masyarakat diminta untuk tidak bersikap acuh terhadap situasi yang ada disekitar tempat tinggalnya. Yang mana semua komponen masyarakat harus berperan dalam rangka untuk smemitigasi dan desiminasi masalah penanggulangan terorisme itu.
“Paling tidak kalau kita tidak bisa berbuat apa-apa, namun kalau kita melihat hal hal yang mencurigakan, tentunya sebagai warga negara, kita harus melapor kepada RT atau lapor kepada polisi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Yang penting kita ada kemauan untuk berbuat yang terbaik dalam hal mencegah aksi maupun mencegah masuknya paham radikal terorisme di Indonesia,” tuturnya.
Dijelaskan alumni Akmil tahun 1986 ini, sesuai dengan Undang-undang No. 5 tahun 2018 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, BNPT lebih mengedepankan terhadap upaya Pencegahan. Dimana Pencegahan itu meliputi tiga hal yaitu Kesiapsiagaan Nasional, Kontra Radikalisasi dan Deradikalisasi.
“Kesiapsiagaan ini kami juga melibatkan para masyarakat. Kita memiliki 32 FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme) yang di 32 provinsi. di masing-masing provinsi itu kami melibatkan para tokoh masyarakat, tokoh agama maupun tokoh pemuda. Mereka itu terus membuat kegiatan di masing-masing bidang untuk melakukan upaya pencegahan seperti membuat diskusi dan sebagainya di wilayahnya masing-masing,” ujar Hendri.
Ia juga mengungkapkan, BNPT telah membentuk Duta Damai di Dunia Maya yang ada di 13 regional. Duta Damai ini bertugas untuk memberikan pencerahan denga menebarkan pesan-pesan perdamaian di dunia maya dalam upaya untuk mencounter konten-konten hoaks, provokasi, hasutan atau ajakan kekerasan yang dihebuskan oleh kelompok radikal terorisme itu melalui dunia maya.
“Generasi milenial selama ini menjadi sasaran rekruitmen kelompok radikal terorisme dengan konten-konten atau narasi kerasnya, maka Duta Damai Dunia Maya ini hadir untuk memberikan pencerahan terhadap generasi seusianya baik itu dengan tulisan, video, poster untuk mengimbangi konten-konten negatif yang disebarkan kelompok radikal tadi agar generasi milienial ini tidak terjerumus terhadap hal-hal yang tidak benar,” ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut dirinya juga berpesan kepada para generasi milenial ini untuk mencegah masuknya paham radikalisme pada diri mereka itu. “Saya sampaikan kepada semua kaum, khusus yang dalam kegiatan ini lebih banyak dari kaum milenial supaya mereka tahu, ‘oh begini tho masalah terorisme itu di Indonesia ini’. Itulah salah satu kenapa saya harus hadir langsung kesini,” tuturnya usai acara
Menurutnya aksi terorisme itu adalah kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan. Oleh karena itu sebagai generasi yang waras, maka kita semua harus memusuhi dan menentang semua tindakan-tindakan aksi terorisme itu. “Oleh karena itu sebagai manusia yang waras mari kita untuk ikut terlibat dalam hal mitigasi dan deseminasi penanggulangan terorisme di Indonesia. Hanya manusia yang tidak waras yang mendukung terhadap terorisme itu,” kata mantan Komandan Grup 3/Sandi Yudha Kopassus TNI-AD ini mengakhiri.
Sementara itu, anggota Komisi I DPR RI, Dr. Sjarifuddin Hasan, MM, MBA, mengatakan bahwa berkembangnya teknologi informasi yang begitu pesat, generasi muda Indonesia diharapkan bisa bangkit untuk melakukan kreativitas dan berinovasi terhadap hal hal yang positif. Ini agar generasi muda terhindar dari pengaruh bahayanya paham radikal terorisme.
“Saya mendorong kepada generasi milenial untuk tetap kreatif dan berinovasi, tentunya yang produktif. Jangan yang destruktif, karena terorisme itu adalah destruktif yang dapat membahayakan diri anda sendiri, membahayakan keluarga anda sendiri, membahaykan masyarakat dan membahayakan bangsa,” ujar Sjarifuddin Hasan.

































































