Surakarta – Virus radikalisme bisa menyebar dari berbagai lini kehidupan masyarakat. Mereka menggunakan berbagai macam cara untuk mengajak, merekrut, dan mendoktrin masyarakat. Salah satunya melalui dakwah dan kajian keagamaan.
Hal itu dikatakan oleh Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mayjen TNI Nisan Setiadi, S.E., menghadiri Kegiatan Silaturahmi Kebangsaan Membangun Harmoni Indonesia bersama Forum Komunikasi Aktivis Masjid Indonesia di Surakarta, Selasa (21/12/2021).
“Tempat ibadah kerap dieksploitasi dan dimanfaatkan kelompok radikal untuk mengajak, merekrut, dan mendoktrin masyarakat dengan ajaran yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan ideologi Pancasila. Karena itulah tokoh agama khususnya aktivis masjid mempunyai peran penting menjadi garda terdepan dalam menangkal virus radikalisme sekaligus membentengi umat dengan pencegahan berbasis keagamaan,” kata Mayjen TNI Nisan Setiadi.
Untuk itu menurutnya, para aktivisi rumah ibadah harus bisa menjadi bagian komponen bangsa yang sangat strategis untuk tetap menjaga harmoni Indonesia dari gangguan kelompok yang dapat merusak persatuan dan kesatuan. Karena rumah ibadah ini tidak hanya sebagai tempat ibadah mahdhah (murni), tetapi rumah ibadah ini juga menjadi tempat merekatkan persatuan dan kesatuan.
“Karena rumah ibadah seperti masjid juga menjadi corong dan mimbar agama yang dapat menyatukan dan menyejukkan masyarakat. Selain itu masjid ini juga sebagai rumah tuhan untuk mendidik umat agar selalu merawat persatuan dan persaudaraan,” ujar mantan Komandan Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara (Danpussenarhanud) Kodiklat TNI-AD ini.
Ia memberikan contoh peradaban madinah yang luar biasa yang dibangun oleh Nabi Muhammad di tengah masyarakat yang multikultural yang mana sesungguhnya dimulai dari masjid. Karena itulah, masjid harus berperan penting dalam membangun peradaban Indonesia yang harmonis.
“Peran ini membutuhkan keterlibatan dan partisipasi aktivis masjid untuk selalu memberikan pencerahan kepada masyarakat,” ujarnya.
Nisan juga mengajak semua pihak untuk terus memperkuat nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dengan menjunjung tinggi konsensus nasional Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Menurutnya banyak negara luar yang iri dengan bangsa Indonesia yang mampu mengelola dengan baik berbagai perbedaan dan keragaman.
“Di berbagai belahan dunia, banyak negara yang tidak mampu mengelola kondisi pluralitas dan multikulturalitas bangsanya secara baik. Seperti contoh di negara-negara Timur Tengah, dengan sedikit suku tetapi selalu dihantui dengan perang domestik yang bernuansakan sekteranisme. Konflik sesama bangsa Arab terus bergejolak bahkan menimbulkan resonansi konflik hingga ke berbagai negara termasuk ke negeri kita tercinta ini,” tuturnya.
Hal itu tidak lepas dari keberadaan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Menurutnya, Pancasila merupakan anugerah dari Allah SWT kepada bangsa Indonersua sebagai satu pandangan hidup bernegara yang disepakati bersama dan sebagai salah satu konsensus nasional yang harus terus dihormati.
“Indonesia mempunyai semboyan, “Bhineka Tunggal Ika” sebagai semboyan falsafah hidup Pancasila yang menjaga keragaman dalam persatuan hingga saat ini. Hai ini yang membuat Indonesia sampai detik ini mampu mengelola dengan baik berbagai keragaman yang ada. Tentu saja, kita juga harus bersyukur,” ucapnya.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang bisa menjadi persoalan sosial yang pada akhirnya memunculkan konflik. Dimana benih-benih konflik ini akan dimulai dari pra sangka (prejudice), kecurigaan, etnosentrisme, fanatisme kelompok, dan perasaan tidak percaya antara satu dengan lainnya.
“Kondisi masyarakat dengan indikator di atas merupakan masyarakat rentan dari gejolak konflik sosial apalagi dengan tingkat keragaman yang tinggi,” kata Nisan.
Ia menegaskan, pentingnya seluruh pihak untuk selalu mengajarkan, menanamkan dan mempraktekan kerukunan, toleransi, dialog, kerjasama dan juga saling menghormati satu sama lain dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara sejak dini.
“Forum silaturrahmi kebangsaan adalah salah satu momen penting bagi kita bersama untuk selalu membangun saling percaya antara pemerintah dan masyarakat dan antar masyarakat dalam rangka mencapai Indonesia yang harmoni,” pungkasnya.

































































