Surabaya – Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Hukum (FH) Untag Surabaya menggelar diskusi nilai-nilai toleransi di kalangan pemuda yang terhimpun dalam Kelas Pemikiran Gus Dur.
Kepala Prodi FH Untag Surabaya Wiwik Afifah mengatakan nilai-nilai toleransi penting bagi mahasiswa sebagai bekal patriot muda yang akan mengemban amanah sebagai penggerak perdamaian.
“Kelas Pemikiran Gus Dur ini merupakan ruang yang akan membawa mahasiswa untuk bisa merespons kondisi negara kita yang terus maju dalam kehidupan berdemokrasi.” kata Wiwik.
Dia menjelaskan kehidupan demokrasi tersebut telah dihasilkan mulai dari Presiden Soekarno, lalu didengungkan oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Gus Dur Dia menjelaskan kehidupan demokrasi tersebut telah dihasilkan mulai dari Presiden Soekarno, lalu didengungkan oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
“Gus Dur memiliki sembilan nilai sebagai kerangka bagaimana kita bersikap sebagai patriot muda,” ujarnya.
Sementara itu, Aktivis Gerakan Sosial Puspita Ratna menyebut kekuatan Indonesia berasal dari perbedaaan yang beragam sehingga dapat menjalankan demokrasi.
Dengan berbagai latar belakang, pemikiran, dan sumber daya yang berbeda Indonesia tidak bisa diseragamkan, tetapi jangan disia-siakan potensinya.
“Indonesia jangan diseragamkan, jangan sia-siakan potensi tersebut,” ucapnya.
Di kesempatan yang sama, Ketua YPTA Surabaya J Subekti mengatakan dalam memaknai demokrasi harus sesuai dengan napas Pancasila yang memayungi semua identitas suku, agama, ras, dan budaya. J Subekti Di kesempatan yang sama, Ketua YPTA Surabaya J Subekti mengatakan dalam memaknai demokrasi harus sesuai dengan napas Pancasila yang memayungi semua identitas suku, agama, ras, dan budaya.
“Dalam konteks ini, keindonesiaan itu milik bersama sehingga kebangkitan memang harus dimiliki semua warga bangsa Indonesia tanpa terkecuali,” ujar Ketua Dewan Pembina Roemah Bhinneka itu.
Mahasiswa juga memegang peranan penting dalam mewujudkan nilai-nilai toleransi saat ini. Estafet kepemimpinan bangsa, ada di tangan mahasiswa. “Mahasiswa itu avant-garde. Garda terdepan bagaimana bangsa Indonesia ke depan dibangun.
Saya menyebut mahasiswa itu miniatur masa depan Indonesia. Mau lihat masa depan Indonesia, lihatlah mahasiswanya,” tuturnya. Untuk mempersiapkannya, tidak cukup hanya dengan memiliki wawasan nilai-nilai toleransi di kalangan pemuda, tetapi mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang paling penting bukan memiliki wawasan nilai toleransi, tapi bagaimana kita punya komitmen menanamkan nilai nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

































































