Jakarta – Moderasi beragama menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi tiga kandidat calon presiden (capres) mendatang. Sayangnya, pada debat pertama kemarin, moderasi beragama luput dari perhatian ketiga capres.
Direktur Nasional GusDurian Network Indonesia (GNI) Alissa Wahid, menyoroti moderasi beragama yang tidak dibahas detail oleh ketiga kandidat capres
Alissa mengapresiasi Capres Nomor Urut 3, Ganjar Pranowo, yang sedikit menyinggung mengenai moderasi beragama. Ia juga mengapresiasi Capres Nomor Urut 1 Anies Baswedan yang menyinggung mengenai kemudahan pemberian izin rumah ibadah saat menjabat sebagai Gubernur Jakarta.
Namun, ia kecewa pada Capres Nomor Urut 2 Prabowo Subianto, yang belum secara konkret menjawab menganai moderasi beragama. Karena itu, Alissa menilai bahwa isu moderasi beragama masih menjadi pekerjaan rumah bagi ketiga kandidat.
“Iya (moderasi beragama), jadi pekerjaan rumah (ketiga kandidat),” ujar Alissa Wahid dalam talkshow Gen Z Memilih by IDN Times, dikutip Jumat (15/12/2023).
Alissa juga menegaskan bahwa moderasi beragama bukan hanya tentang kemudahan pemberian izin pendirian rumah ibadah. Di luar itu, kata dia, bagaimana pandangan keagamaan ditanamkan dan diaktualisasikan di tengah-tengah masyarakat.
“Kedua ada mental set, mayoritas, minoritas kayak kalau di Indonesia timur dulu ada masjid di Kupang ditolak, di Papua ada masjid ditolak,” kata dia.
Bila berbicara tentang moderasi beragama, menurut Alissa Wahid masih ada pekerjaan rumah terkait koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Menurut dia, agama semestinya memang diatur oleh pemerintah pusat. Namun, pekerjaan rumahnya adalah izin pendirian rumah ibadah berada di tingkat pemerintah daerah.
Sementara kata dia, pemerintah daerah selalu terjebak dengan kepentingan politiknya karena takut suaranya tergerus.
“Bupati terjebak dengan dukung mendukung, jadi nggak usah daripada menimbulkan keributan jadi ada problem itu. Itu satu yang semalam (saat debat pertama) nggak dibahas soal pemerintahan, hubungan pusat dan daerah nggak ada semalam,” kata dia.
































































