Jakarta – Pada tanggal 10 Oktober, dunia memperingati “Hari Kesehatan Mental Sedunia”. Tahun ini, WHO mengangkat tema “Kesehatan Mental dalam Pekerjaan,” yang menekankan pentingnya lingkungan kerja yang aman dan sehat sebagai faktor perlindungan. Sebaliknya, kondisi yang tidak sehat seperti stigma, diskriminasi, dan paparan terhadap pelecehan serta kondisi kerja yang buruk merupakan risiko bagi kesehatan mental.
Lebih dari itu, kondisi kerja berpengaruh signifikan terhadap kualitas hidup pekerja secara keseluruhan, yang pada gilirannya berdampak pada kinerja, produktivitas, dan perilaku organisasi lainnya.
Generasi Z, seperti yang diungkap oleh María Dolores Benítez-Márquez dan rekan-rekannya dalam artikel di Frontiers in Psychology pada 1 Februari 2022, terdorong untuk mencari pekerjaan yang ideal. Mereka cenderung lebih sering berganti pekerjaan dibandingkan generasi sebelumnya dan siap pindah jika tidak puas.
Motivasi mereka termasuk mencari kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, kemajuan karier, kenaikan gaji, pekerjaan yang bermakna, dan tim yang baik. Karakteristik generasi ini juga mencerminkan ambisi dan kepercayaan diri yang tinggi.
Namun, bagaimana dengan tekanan global yang terus berlanjut dan ketidakpastian ekonomi? Situasi ini sering disebut ‘krisis permanen’, meliputi krisis keuangan global, perang, terorisme, ketidakpastian politik, dan krisis iklim.
Dampaknya sangat nyata, termasuk gaji yang tidak sejalan dengan inflasi dan ketidakamanan kerja akibat PHK yang meluas, terutama di era digitalisasi dan otomatisasi, di mana siapa pun bisa terkena dampaknya.
Kondisi ini meningkatkan kecemasan di kalangan pekerja dari berbagai usia, tetapi Gen Z adalah yang paling merasakannya. Megan Carnegie, dalam artikel di BBC pada 17 Februari 2023, melaporkan bahwa survei Cigna International Health 2023 menemukan 91 persen pekerja berusia 18-24 tahun merasakan tekanan tinggi, dengan hampir seperempat dari mereka mengakui mengalami stres yang tak tertanggulangi.
Hampir semua anggota Gen Z mengalami gejala burnout, termasuk kelelahan emosional dan kehilangan motivasi.
Berbagai penelitian menunjukkan masalah kesehatan mental yang dialami Gen Z di tempat kerja. Survei Gallup 2022 menemukan sekitar 54 persen dari mereka merasa tidak terlibat dengan pekerjaan karena sikap negatif dan kurang motivasi.
Selain itu, ada kecenderungan untuk mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan tidur yang disebabkan oleh pengaruh negatif media sosial.
Dengan sekitar 60 persen populasi dunia yang bekerja, tindakan mendesak untuk mencegah risiko kesehatan mental dan mendukung kesejahteraan pekerja sangat diperlukan. Banyak Gen Z merasa perusahaan hanya memanfaatkan mereka dan kurang peduli pada kesehatan mental mereka.
Oleh karena itu, penting bagi semua pihak yang bertanggung jawab atas kesehatan mental pekerja, termasuk pemerintah, pengusaha, serikat buruh, akademisi, dan profesional kesehatan mental, untuk bekerja sama dalam mengatasi masalah ini, terutama untuk Gen Z.
Ada harapan untuk perbaikan, seperti yang diungkapkan dalam 10 Tren SDM Teratas yang dikutip oleh Jeanne Meister di Forbes pada 15 Januari 2020. Tren ini bergerak menuju lingkungan kerja yang lebih baik, keseimbangan kehidupan-kerja, keamanan kerja, dan iklim kerja yang sehat, serta pengembangan keterampilan.
Semakin banyak perusahaan yang memiliki sumber daya untuk memotivasi karyawan sebagai klien internal. Investasi dalam pendekatan dan intervensi, seperti program bantuan karyawan, pemenuhan agenda kerja layak, model intervensi psikososial, dan konseling di tempat kerja, sangat penting untuk memastikan setiap orang memiliki peluang berkembang di tempat kerja dan dalam hidup.
Tindakan yang diambil hari ini adalah untuk masa depan yang lebih sehat. Seperti yang diungkapkan dalam pernyataan anonim, masalah kesehatan mental bukanlah hal sepele; ini adalah isu serius yang dihadapi banyak orang setiap hari, termasuk Gen Z. Saatnya untuk memberikan perhatian lebih dan bertindak serius dalam menangani kesehatan mental Gen Z, dengan optimisme untuk mencapai keberhasilan. Gen Z dikenal sebagai orang-orang yang mahir teknologi, kreatif, kompetitif, pluralis, dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan kemandirian. Mereka juga realistis dan mampu menerima kenyataan sambil mempertimbangkan masalah yang dihadapi.
































































