Damaskus – Pemberontak di Suriah mengumumkan bahwa rezim Presiden Bashar al-Assad telah runtuh. Warga Suriah yang sebelumnya melarikan diri ke Lebanon untuk menghindari kekerasan pemerintah kini mengantre di perbatasan untuk kembali ke kampung halaman mereka.
Dalam laporan yang dilansir oleh Al Jazeera dan BBC pada Minggu (8/12/2024), sepuluh hari terakhir telah menjadi momen bersejarah di Suriah. Pemberontak yang sebelumnya terjebak di benteng Idlib barat laut mulai bergerak maju dan merebut sejumlah kota besar seperti Aleppo, Hama, dan Homs. Kini, mereka telah berada di Damaskus, pusat kekuasaan Assad yang telah bertahan selama 24 tahun. Kecepatan kemajuan pemberontak mengejutkan banyak pihak, namun hal itu juga membawa kegembiraan bagi banyak warga Suriah.
Kegembiraan juga dirasakan oleh ratusan ribu warga Suriah yang telah melarikan diri dari negara itu, baik untuk menghindari kekejaman rezim Assad atau mencari kehidupan yang lebih baik. Meskipun pemerintah Assad mengklaim kemenangan beberapa tahun lalu, kondisi kehidupan warga Suriah tetap buruk, dengan sekitar 90 persen dari mereka hidup di bawah garis kemiskinan dan negara ini dilanda krisis kemanusiaan.
Di perbatasan Lebanon-Suriah, tepatnya di Masnaa, ribuan orang Suriah telah menunggu untuk menyeberang dan kembali ke tanah air mereka. Banyak di antara mereka yang sudah lama menunggu kesempatan ini, merasa bebas untuk pulang. Beberapa pemuda bahkan berkumpul di perbatasan dengan meneriakkan lagu-lagu revolusi dan kebebasan sambil mengibarkan bendera hijau oposisi. Warga Suriah yang pulang kabarnya tidak perlu melewati bea cukai, dan paspor mereka tidak akan distempel.
Di sisi lain, Yordania membuka kembali perbatasannya dengan Suriah setelah sempat ditutup selama dua hari. Pembukaan ini memungkinkan warga Suriah kembali ke negara asal mereka setelah jatuhnya rezim Assad. Kedutaan Besar Suriah di Qatar juga mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa “fajar kebebasan telah terbit” dan negara ini kini telah terbebas dari tirani.
Pernyataan itu menambahkan bahwa rakyat Suriah telah lama menanggung penderitaan yang luar biasa dan kini siap membangun kembali negara mereka sebagai tanah air bagi semua warga Suriah.
Runtuhnya rezim Assad juga disambut baik oleh warga Suriah yang tinggal di Turki. Sejak awal konflik, Turki telah menampung sekitar 3,5 juta pengungsi Suriah. Turki berharap Suriah akan menjadi negara yang stabil agar para pengungsi dapat kembali dan ekonomi mereka bisa tumbuh. Para pengungsi Suriah yang berada di Turki dan Eropa kini mulai mempertimbangkan untuk pulang setelah kejatuhan rezim Assad.
































































