Palu – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulawesi Tengah, Mohsen Alaydrus, menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi menjadi kiblat kerukunan dunia karena keberagaman budaya dan agama yang hidup berdampingan secara harmonis. Hal tersebut disampaikannya dalam Upacara Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Ke-79 Kemenag di Palu, Jumat (3/1/2025).
“Kerukunan umat beragama adalah kekayaan bangsa yang sangat berharga,” ujar Mohsen, mengutip sambutan Menteri Agama RI.
Dalam sambutannya, ia juga menyoroti isu global seperti perubahan iklim dan krisis kemanusiaan. Kemenag, kata dia, berperan aktif dalam kampanye pelestarian lingkungan, termasuk melalui inisiatif lintas agama seperti Deklarasi Istiqlal yang ditandatangani pada 5 September 2024 oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. Deklarasi ini menegaskan pentingnya persatuan, toleransi, kemanusiaan, dan mitigasi perubahan iklim.
Peringatan HAB tahun ini bertema “Umat Rukun Menuju Indonesia Emas”, yang sejalan dengan visi pemerintahan Prabowo-Gibran untuk memperkokoh ideologi Pancasila, meningkatkan toleransi, serta menjaga harmoni dengan alam dan budaya.
Mohsen juga mengingatkan sejarah berdirinya Kemenag pada 1946 di bawah Kabinet Sjahrir II, dengan H.M. Rasjidi sebagai Menteri Agama pertama. “Hari Amal Bakti mengingatkan kita pada nilai pengabdian dan komitmen kementerian terhadap umat beragama di Indonesia,” ujarnya.
Kemenag memiliki peran strategis dalam memelihara kebebasan beribadah, mempererat hubungan antarumat beragama, serta menjembatani ajaran agama dengan praktik kehidupan sehari-hari. Namun, ia juga menyoroti tantangan seperti korupsi, kekerasan, dan kesenjangan moral yang harus diatasi untuk mencapai keberhasilan tugas kementerian.
Salah satu prioritas Kemenag adalah peningkatan mutu pendidikan agama, termasuk melalui program, Kemenag juga berfokus pada pemberdayaan ekonomi umat melalui program kemandirian pesantren, pengelolaan zakat dan wakaf, serta gerakan filantropi lainnya.
“Pemberdayaan ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan potensi umat secara optimal,” kata Mohsen.
Ia menambahkan bahwa Kemenag terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan keagamaan di semua jenjang, sehingga peserta didik tidak hanya memahami ajaran agama secara mendalam, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Mohsen, peran Kemenag di tengah masyarakat tidak hanya sebatas pengelolaan administrasi keagamaan, tetapi juga menjadi katalisator untuk menciptakan harmoni dan perdamaian. “Keberhasilan tugas ini diukur dari sejauh mana nilai-nilai agama dapat diterapkan dengan baik di tengah masyarakat,” ujarnya.
Mohsen menutup sambutannya dengan mengajak seluruh pihak untuk terus mendukung program-program Kemenag demi mewujudkan Indonesia yang lebih rukun dan harmonis menuju Indonesia Emas 2045.
































































