Jakarta – Musibah menimpa Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo. Bangunan pesantren tersebut ambruk saat proses pengecoran. Sejauh ini lima santri ditemukan tewas, dan puluhan luka-luka, serta diperkirakan masih ada santri yang tertimbun belum ditemukan.
Bupati Sidoarjo, Subandi, menyebut ambruknya bangunan itu diduga kuat karena pihak pesantren tidak mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan konstruksi yang dikerjakan tidak sesuai standar.
“Kalau ada pembangunan yang tidak dilengkapi izin, akan kita hentikan dulu. Kita tidak ingin musibah seperti ini terulang kembali,” kata Subandi, dikutip Selasa (30/9/2025).
Ia menambahkan, pihaknya sudah menanyakan langsung soal perizinan bangunan tersebut. Hasilnya, tidak ada izin resmi yang dikantongi pengelola, sementara pengerjaan tetap dilakukan hingga ke lantai tiga.
“Setelah saya cek, izinnya tidak ada. Mereka sudah ngecor sampai lantai tiga, padahal konstruksinya tidak sesuai standar. Akhirnya roboh,” ujarnya.
Sementara itu, pengasuh Ponpes Al Khoziny, KH Abdus Salam Mujib, menjelaskan bahwa insiden terjadi ketika proses pengecoran bagian paling atas bangunan. Menurutnya, pengecoran sudah berlangsung hampir sembilan bulan, dan runtuhnya musala terjadi saat pekerjaan tahap akhir.
“Ini pengecoran terakhir saja. Tiba-tiba jebol,” ucap Mujib singkat.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi keluarga korban dan para santri lainnya. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menegaskan akan memperketat pengawasan pembangunan agar setiap proyek, terutama yang menyangkut fasilitas umum dan pendidikan, mematuhi aturan perizinan dan standar keselamatan.

































































